Logo Header Antaranews Jateng

Tim medis UMS lengkapi laga Pencak Silat POMNAS 2025 untuk cegah penanganan fatal

Rabu, 24 September 2025 19:14 WIB
Image Print
Tim medis saat mengobati pesilat kontingen Jawa Tengah pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XIX 2025 di Solo, Jawa Tengah, Rabu (24/9/2025). ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Tim medis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melengkapi laga Pencak Silat Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XIX 2025 untuk mencegah penanganan fatal saat pertandingan.

Salah satu anggota tim medis, mahasiswa profesi Fisioterapis UMS Muhammad Raihan Maulidan, S.Kes., di Solo, Jawa Tengah, Rabu mengatakan tim medis terdiri dari mahasiswa profesi Fisioterapis dan profesi Ners, juga dokter dari MMC UMS.

“Mahasiswa diperkenankan untuk mendaftar menjadi bagian dari tim medis melalui formulir pendaftaran hingga kuota terpenuhi. Tim medis berjaga dari awal pertandingan hingga akhir pertandingan,” katanya.

Ia mengatakan keberadaan tim medis dalam pertandingan sangat diperlukan mengingat bahwa dalam suatu pertandingan, cedera tidak dapat dihindari.

“Keberadaan tim medis dalam pertandingan itu tinggi sekali (penting). Kalau misal ada cedera-cedera itu cepat bisa kita tangani, jadi kalau misal ada yang terindikasi patah tulang ataupun lainnya bisa segera dirujuk ke rumah sakit,” katanya.

Jika tidak ada tim medis, lanjutnya, akan memungkinkan adanya penanganan yang lambat bahkan salah sehingga berakibat fatal.

Muhammad menyebutkan pada pencak silat, terkadang pesilat mengalami cedera seperti benturan-benturan di mulut, dada, atau bagian tubuh lainnya. Dia mengungkapkan, pada sesi pertama terdapat dugaan (suspect) pesilat mengalami dislokasi siku, tetapi penanganan awal sudah dilakukan dengan bended lalu dirujuk ke rumah sakit.

Baginya, tantangan terbesar saat menjadi tim medis adalah harus bisa menekan ego dan berkoordinasi karena beberapa yang ikut seperti dokter, dokter spesialis, dan sebagainya.

“Menyatukan persepsi itu yang agak susah. Tantangannya lagi misalkan atlet itu cedera dia harus bisa main dua hari lagi itu tantangan banget,” katanya.

Beberapa peralatan medis yang disediakan di antaranya alat pacu jantung untuk menangani pasien yang henti jantung, oksigen, pereda nyeri, dan ice bag. Tiga armada ambulans juga disigiakan untuk membantu proses rujuk menuju rumah sakit.

Mahasiswi profesi Ners UMS Nuriyatul Fitriyah, S.Kep., menerangkan keterlibatan mahasiswa profesi Ners UMS dalam hal ini lebih pada penanganan kegawatdaruratan.

Tim medis harus siaga untuk menangani tindakan seperti menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan dalam tindakan.

“Posisi perawat itu sendiri memang harus bekerja sama aja dengan dokter dan fisioterapis, cuma nanti kalau dokter minta pertolongan oksigen, kita bawakan,” kata Nuriyatul.

Nuriyatul mengaku menjadi anggota tim medis POMNAS XIX cabor pencak silat secara sukarela untuk mengisi kesehariannya sembari menunggu pelatihan dan ujian kompetensi.



Pewarta:
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026