Logo Header Antaranews Jateng

Wali Kota Semarang: Guru adalah penjaga pertahanan masa depan

Sabtu, 20 September 2025 06:28 WIB
Image Print
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti saat membuka kegiatan Ngopi Bareng (Ngobrol Penting Bersama Stakeholder Pendidikan Kota Semarang), di Semarang, Jumat (19/9/2025). ANTARA/Zuhdiar Laeis

Semarang (ANTARA) - Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyebutkan bahwa guru berperan sebagai penjaga pertahanan masa depan bangsa, tak ubahnya seperti TNI dan polisi.

"Kalau tentara itu pertahanan dari anasir luar, polisi itu pertahanan negara secara internal, guru itu pertahanan masa depan," katanya, di Semarang, Jumat.

Hal tersebut disampaikan Agustina Wilujeng saat membuka kegiatan Ngopi Bareng (Ngobrol Penting Bersama Stakeholder Pendidikan Kota Semarang).

Menurut dia, sistem pendidikan Indonesia memang perlu dibenahi sehingga diperlukan revisi terhadap Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

"Pendidikan itu kepentingan yang dilihat negara secara strategis, secara nasional. Penting bagaimana mendorong kemajuan pendidikan, termasuk guru," katanya.

Menurut dia, makna guru sebagai orang yang digugu dan ditiru sebagaimana disematkan kepada tenaga pendidik harus dikembalikan kepada marwahnya dulu.

Namun, kata dia, pendidikan tidak bisa hanya menggantungkan pada peran guru saja, tetapi semua harus ikut terlibat, baik orang tua, keluarga, maupun masyarakat.

"Harus dipahami bahwa apa yang dipelajari anak-anak adalah proses persiapan untuk menggantikan kita (generasi tua, red.)," katanya.

Ia mengatakan bahwa generasi tua tentunya memahami adanya kekurangan dalam sistem pendidikan yang didapatkan selama muda dan memastikan itu tidak terjadi lagi pada generasi selanjutnya.

"Kita kehilangan waktu, misalnya tidak belajar ini itu, ada yang kurang, maka kita lengkapi agar semakin komplit. Tidak hanya dalam sekolah tetapi juga menghadapi realitas di dunia nyata," katanya.

Orang tua karena sibuk bekerja, kata dia, terkadang memasrahkan pendidikan anaknya kepada guru di sekolah, padahal waktu mereka di sekolah hanya 6-8 jam per hari.

Akhirnya, kata dia, anak-anak sekarang terbiasa untuk mencari tahu segala sesuatu dengan mengakses internet melalui gawai sehingga asyik dengan dunianya sendiri.

"Padahal, mereka ini membutuhkan pengetahuan yang tidak ada di buku, membutuhkan bimbingan norma dan etika yang tidak dipelajari secara langkap di institusi manapun. Mereka belajar dari orang tua," katanya.

Oleh karena itu, Agustina mengajak kalangan orang tua untuk bersama-sama berperan dalam mendidik anak dan tidak semata mengandalkan peran guru di sekolah.

Baca juga: 110 Guru SD di Demak ikuti pelatihan Matematika Smart Indonesia



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026