Solo (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggencarkan digitalisasi UMKM dan antibullying sebagai program kerja unggulan dalam Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah Aisyiyah (KKN-MAs) 2025 di Riau.
Salah satu mahasiswa UMS peserta KKN-MAs Syaban Al Muyaffa Ibnu Ahmad di Riau, Sabtu mengatakan beberapa program unggulan yang diangkat menyasar isu-isu strategis masyarakat, mulai dari digitalisasi UMKM, edukasi anti bullying, hingga pembentukan pojok baca.
Salah satu program yang menjadi perhatian utama adalah sosialisasi digitalisasi dan pemetaan UMKM. Program ini dinilai relevan untuk mendukung pelaku usaha lokal dalam memanfaatkan teknologi demi memperluas pasar.
“Selain itu, edukasi anti bullying juga menjadi fokus yang kami jalankan. Program ini menyasar pelajar sekolah dasar, dengan harapan dapat membentuk karakter dan perilaku positif sejak dini,” katanya.
Bagi Syaban pengalaman mengajarkan antibullying kepada anak-anak SD menjadi momen unik dan berkesan. Baginya, interaksi langsung dengan anak-anak memberikan perspektif baru tentang pentingnya pendidikan karakter sejak dini.
Syaban juga menjelaskan sejak awal Agustus, dua program utama telah terealisasi di lapangan, yaitu sosialisasi bahaya seks bebas di SMK Negeri 1 Dayun dan edukasi anti bullying di SD Negeri 16 Sawit Permai. Kedua kegiatan ini mendapat respon positif dari guru, siswa, dan orang tua.
Pembentukan pojok baca juga menjadi bagian dari program berkelanjutan yang dirintis mahasiswa UMS di Riau. Diharapkan, fasilitas ini dapat terus dimanfaatkan warga untuk meningkatkan literasi. Menurut Syaban, masyarakat setempat menyambut baik kehadiran mereka.
“Alhamdulillah masyarakat sini antusias dan sangat mendukung program yang kami tawarkan, karena sesuai dengan kebutuhan mereka,” katanya.
Kampus yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan KKN-MAs 2025 adalah Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), dengan lokasi kegiatan berada di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. UMRI menjadi pusat koordinasi bagi peserta KKN-MAs yang datang dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah di Indonesia.
KKN-MAs di Riau itu diikuti 20 delegasi mahasiswa UMS yang diberangkatkan oleh Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra KI (DRPPS) UMS. DRPPS juga menjadi pihak yang memberikan dukungan penuh terhadap kelancaran kegiatan.
Para peserta berangkat dari Solo pada 29 Juli 2025 dan dijadwalkan kembali pada 11 September 2025. Selama lebih dari satu bulan, mereka fokus melaksanakan program kerja yang telah disusun bersama.
Syaban sendiri ditempatkan di Desa Sawit Permai, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Desa ini mayoritas dihuni keturunan transmigran asal Jawa, sehingga budaya, bahasa, dan kebiasaan Jawa masih sangat kental.
Ia mengaku banyak mendapatkan manfaat, mulai dari bertambahnya relasi hingga wawasan baru. Di kegiatan tersebut, Syaban mendapatkan kesempatan jalan-jalan sambil terjun langsung ke masyarakat untuk membagikan ilmu dan pengalaman.
Sementara itu, KKN-MAs 2025 menjadi wadah pengabdian mahasiswa Muhammadiyah se-Indonesia sekaligus upaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam pembangunan masyarakat, dengan sentuhan langsung pada kebutuhan riil warga di lokasi penempatan.

