
Bendera pengayom dan bendera HDKD 77 berkibar di Gunung Slamet

Semarang (ANTARA) - Bendera Pengayoman dan Bendera Hari Dharma Karya Dhika (HDKD) ke 77 bersanding dengan Bendera Merah Putih berkibar di puncak Gunung Slamet.
Sebanyak 90 orang, seluruhnya ASN perwakilan dari beberapa Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Tengah ikut dalam pendakian tersebut.
Sebagian dari mereka para Kepala UPT yang usianya tidak lagi tergolong muda seperti Kepala Lapas Kelas IIB Klaten Ahmad Fauzi, Kepala Lapas Kelas IIB Tegal Andi Yudho Sutijono, Kepala Lapas Kelas IIA Permisan Nusakambangan Mardi Santoso, dan Kepala Rutan Kelas IIB Salatiga Andri Lesmano.
Seluruhnya berhasil menginjakkan kakinya di puncak tertinggi gunung dengan ketinggian 3.428 MDPL. Pendakian berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu tanggal 12-13 Agustus 2022, dengan mengambil jalur pendakian via Guci Basecamp Kompak.
Selama dua hari jalur pendakian, mereka diguyur hujan yang cukup deras. Hari pertama menuju camp area Pos Mata Air, harus melewati empat pos awal yang ditempuh dengan waktu 7-9 jam perjalanan.
Hari kedua, harus menghadapi track terberat. Jalanan menuju puncak sangat terjal, tingkat kemiringan track dapat mencapai 80 derajat, terlebih medan didominasi oleh bebatuan dan kerikil. Waktu tempuh menuju puncak antara 2-3 jam. Peserta terakhir tiba di Basecamp Kompak pada pukul 22.50, Sabtu (14/8/2022).

Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka Semarak Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Dharma Karya Dhika ke 77 Tahun 2022.
Ketua Pelaksana Kepala Rutan Kelas IIB Salatiga Andri Lesmano menjelaskan alasan diadakan kegiatan tersebut dan memilih Gunung Slamet sebagai lokasi pengibaran Bendera Merah Putih.
"Sama seperti kegiatan lainnya, ini merupakan wujud syukur atas Kemerdekaan Republik Indonesia dan peringatannya bersama dengan Hari Dharma Karya Dhika ke 77 yang merupakan hari lahir Kementerian Hukum dan HAM. Kami memilih mendaki karena kegiatan ini manifestasi dan gambaran sebuah perjuangan yang membutuhkan fisik dan tekad yang kuat," katanya.

Mengenai, pemilihan Gunung Slamet, Koordinator Kegiatan, Kepala Lapas Kelas IIB Klaten Ahmad Fauzi memberikan penjelasan.
"Kami memilih Gunung Slamet karena gunung ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Filosofinya, kami Insan Pengayoman berkomitmen untuk berkontribusi membawa Indonesia dan Kementerian Hukum dan HAM tempat tertinggi," jelasnya.
Secara personal, katanya, hal tersebut berarti seluruh ASN Kemenkumham Jateng harus bisa memberikan kemampuan terbaik, harus terus berusaha meningkatkan kualitas dan kapasitas sebagai abdi negara serta harus bisa membawa organisasi ke puncak kejayaan.

Pewarta: KSM
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
