Dekranasda Jateng ajak pelaku UMKM "naik kelas"

id fesmabi 2019,dekranasda jateng,BI Purwokerto

Dekranasda Jateng ajak pelaku UMKM "naik kelas"

Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Tengah Siti Atiko Ganjar Pranowo (kanan) usai membuka kegiatan Festival UMKM dan Ekonomi Syariah Bank Indonesia (Fesmabi) 2019 di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Sabtu (23/11/2019), didaulat untuk memeragakan busana batik dengan motif Serayuan yang merupakan kreasinya. ANTARA/Sumarwoto

Purwokerto (ANTARA) - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah Siti Atikoh Ganjar Pranowo mengajak pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk "naik kelas" dengan mengekspor produk yang dihasilkannya.

"Kami dari Dekranasda, jadi lebih fokus kepada sektor kerajinan, kita juga harus melihat positioning yang akan kita mapping, pengrajin mana atau usaha mana yang memang siap 'naik kelas' untuk ekspor, kemudian mana yang skala nasional dan mana itu yang lokal," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Sabtu.

Atikoh mengatakan hal itu saat membuka kegiatan Festival UMKM dan Ekonomi Syariah Bank Indonesia (Fesmabi) 2019 yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto di Rita Supermal, Purwokerto, 22-24 November 2019.

Menurut dia, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta sebenarnya juga merupakan potensi yang sangat besar dalam pemasaran produk-produk UMKM.

"Jangan sampai kita nasionalnya digempur habis-habisan oleh produk impor. Kalau kita analisis atau kita evaluasi, e-commerce itu justru mempermudah pembelian produk impor," kata istri Gubernur Jawa Tengah itu.

Baca juga: Optimisme pelaku UMKM hadapi ancaman resesi ekonomi

Dalam hal ini, dia mencontohkan ibu-ibu rumah tangga yang ingin membeli produk kosmetik impor, dapat melakukannya dengan mudah melalui e-commerce.

"Kita tidak mau dong kehilangan lapak seperti ini. Jadi, saya sangat menyambut baik apa yang disampaikan Pak Husein (Bupati Banyumas Achmad Husein, red.), bagaimana ada inkubator bisnis, sehingga teknik pengambilan foto untuk produk yang ditawarkan melalui e-commerce itu juga berbeda, pencahayaannya, kemudian sudut pengambilannya, terutama untuk produk-produk kerajinan," katanya.

Saat memberi sambutan, Bupati Banyumas Achmad Husein meminta Dekranasda Kabupaten Banyumas bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) setempat membuat inkubator bisnis dalam jaringan (daring/online) dan ekspor.

"Jadi, kalau masyarakat Banyumas mau tahu caranya bagaimana dia bisa upload untuk (bisnis) online, maka tidak perlu tanya ke sana ke mari, lengkapnya ada di inkubator bisnis Banyumas. Datang ke situ, diterima, diajari, tanpa biaya satu rupiah pun. Itu yang saya minta," katanya.

Ia mengatakan inkubator bisnis tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang ingin belajar tentang tata cara ekspor yang baik.

Menurut dia, hal itu disebabkan institusi yang berkaitan dengan ekspor cukup banyak dan persyaratan ekspor pun cukup sulit sehingga masyarakat perlu dibantu.

Selain masalah inkubator bisnis, Husein yang pernah menjadi Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) juga mengharapkan MES Kabupaten Banyumas dapat memberikan sertifikat halal kepada UMKM makanan dan minuman secara gratis.

"Sertifikat halal di Banyumas harus gratis, tidak boleh dipungut biaya," tegasnya.

Oleh karena itu, dia mengharapkan KPw BI Purwokerto, perbankan, dan perusahaan-perusahan lainnya memberikan bantuan melaui program pertanggungjawaban sosial (corporate social responsibility/CSR) untuk mewujudkan sertifikasi halal secara gratis tersebut. 

Usai seremoni pembukaan Fesmabi 2019 tersebut, Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Tengah Siti Atikoh Ganjar Pranowo, Bupati Banyumas Achmad Husein, dan Ketua Dekranasda Kabupaten Banyumas Erna Achmad Husein didaulat untuk memeragakan busana batik yang mereka kenakan. 

Baca juga: Ekspo Gemawang Gandem Temanggung dorong pertumbuhan UMKM
Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar