Mahasiswa UMM ciptakan mesin pengayak pasir

id mahasiswa UMM, mesin pengayak pasir, sinpangsir

Mahasiswa UMM ciptakan mesin pengayak pasir

Ketiga mahsiswa Fakultas Teknik UMM menunjukkan hasil karya mereka berupa mesin pengayak pasir (Sinpangsir) yang lebih efesien (Endang Sukarelawati)

Malang (ANTARA) - Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Mesin dan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan mesin pengayak pasir yang cukup inovatif dan lebih efesien karena tidak melibatkan banyak tenaga kerja.

Ketiga mahasiswa pembuat mesin pengayak pasir yang diberi nama "Sinpangsir" itu adalah Fajar Ibrahim Sulaksono (Teknik Mesin), Sabiq Nugroho, dan Amirul Bagus Bintoro (Teknik Sipil).

"Mengayak pasir harusnya bisa dilakukan oleh satu orang saja. Tetapi pada kenyataannya harus dilakukan oleh tiga orang, bahkan lebih," kata Fajar Ibrahim di Malang, Jawa Timur, Jumat.

Fajar menerangkan Sinpangsir tersebut tercetus berawal dari keresahan ayah Fajar yang melihat para pekerjanya tidak efisien saat mengayak pasir. Penelitian dan percobaan-percobaan dilakukan untuk mendapatkan mesin yang efisien dan efektif serta mudah penggunaannya.

Sinpangsir, kata Fajar, memiliki beberapa keunggulan di antaranya adalah penggunaan waktu yang efisien untuk memilah pasir halus dan kerikil.

Tabung pengayak sengaja didesain berbentuk segi delapan karena setiap sudut dari segi tersebut memiliki fungsi sebagai penghentak sekaligus pemisah antara kerikil dan juga pasir. Selain itu, Sinpangsir juga memiliki penutup pada tabung pengayaknya untuk mencegah berhamburnya pasir dan kerikil agar tidak sampai keluar tabung.

Dari beberapa keunggulan Sinpangsir tersebut, kata Fajar, salah satu yang cukup menyita perhatian adalah mesin ini menggunakan bahan bakar minyak (BBM) premium, sehingga mesin ini dapat ditempatkan di mana saja tanpa harus mencari sumber daya listrik terdekat.

"Mesin pengayak pasir ini mampu menampung hingga 174 kg pasir dan mampu mengayak sekitar 17 ton per jam," kata Fajar.

Dengan biaya pembuatan mesin inovatif sekitar Rp6 juta ini, inovasi tersebut didaftarkan di ajang Program Kreativitas Mahasiswa–Karsa Cipta Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti.

Karya ketiga mahasiswa ini mampu menembus Program Kreativitas Mahasiswa tingkat Monitoring dan Evaluasi (Monev) eksternal, sebelum nanti maju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Naional (PIMNAS) akhir Juni mendatang di Bali.

Di ajang ini UMM berhasil meloloskan 38 tim PKM dari semua kategori skim, untuk didanai dan diwujudkan menjadi bentuk penelitian maupun karya nyata.
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar