
Benih Padi Inpari Unsoed 79 mulai Diproduksi

Pemalang, ANTARA JATENG - Benih padi varietas Inpari Unsoed 79 Agritan mulai diproduk dan didistribusikan oleh CV Gemilang Karya Sentosa, Banyumas, Jawa Tengah, di bawah pembinaan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto serta Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.
"Padi Inpari Unsoed 79 Agritan yang dirakit oleh Dr. Suprayogi dan Dr. Noor Farid dari Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto ini spesifik untuk lahan salin atau lahan-lahan pinggir pantai yang kadar garamnya tinggi," kata Direktur CV Gemilang Karya Sentosa Fatkhurrohman usai menghadiri panen perdana padi varietas Inpari Unsoed 79 Agritan di Desa Nyamplungsari, Kecamatan Petarukan, Pemalang, Selasa.
Ia mengatakan pihaknya telah memasuki tahun kedua dalam memroduksi dan mendistribusikan benih padi Inpari Unsoed 79 Agritan untuk memenuhi kebutuhan petani.
Dalam hal ini, produksi pertama pada tahun 2016 dengan melakukan penangkaran benih Inpari Unsoed 79 Agritan di Ajibarang, Kabupaten Banyumas, dan dapat menghasilkan benih sebanyak 20 ton.
Menurut dia, benih hasil penangkaran sebanyak 20 ton tersebut selanjutnya dibudidayakan pada lahan seluas 400 hektare yang tersebar di Kabupaten Cilacap, Kebumen, Pemalang, dan Kota Tegal masing-masing 100 hektare serta tambahan di Pekalongan seluas 50 hektare.
"Pada tahun 2018, kami bersama Unsoed berencana mengembangkan di wilayah Provinsi Jateng terutama yang mempunyai lahan salin," katanya.
Ia mengatakan berdasarkan data, di Jawa Tengah terdapat 11 kabupaten/kota yang memiliki wilayah pantai dengan potensi lahan salin secara keseluruhan lebih kurang 10.000 hektare.
Dari luasan tersebut, lahan salin yang potensial untuk budi daya padi Inpari Unsoed 79 Agritan diperkirakan sekitar 8.000 hektare.
"Apabila kebutuhan benih per hektare sebanyak 30 kilogram, kebutuhan benih untuk lahan salin yang ada di Jawa Tengah lebih kurang 240 ton per musim tanam. Asumsi `market share` kami (CV Gemilang Karya Sentosa) adalah 50 persen, sehingga benih yang harus kami sediakan adalah 120 ton per musim tanam. Benih sebanyak ini dapat disediakan dari hasil panen lahan penangkaran benih seluas 40 hektare dengan produksi benih 3 ton per hektare," katanya.
Ia mengatakan pada tahun 2019 direncanakan pengembangan benih padi untuk memenuhi kebutuhan skala nasional.
Dengan demikian, kata dia, produksi benih padi Inpari Unsoed 79 Agritan akan ditingkatkan.
Lebih lanjut, Fatkhurrohman mengatakan dalam penangkaran benih tidak dilakukan di lahan salin melainkan lahan normal seperti lokasi penangkaran di Ajibarang.
"Itupun tidak sembarang lahan karena ketika akan membuat lahan untuk penangkaran benih harus mengikuti prosedur yang telah ditentukan dan benih yang dihasilkan juga harus diuji lebih dulu," katanya.
Sebelumnya, salah seorang perakit padi varietas Inpari Unsoed 79 Agritan, Suprayogi mengatakan padi untuk lahan salin itu merupakan perkawinan padi Atomita-2 dan padi Cisadane.
Dalam hal ini, kata dia, Atomita-2 merupakan varietas padi yang tahan salin sedangkan Cisadane memiliki sifat-sifat atau rasa yang disukai masyarakat.
Dari perkawinan itu menghasilkan keturunan-keturunan yang potensial berupa Inpari Unsoed 79 Agritan.
Menurut dia, pihaknya akan mengembangkan padi Inpari Unsoed 79 Agritan pada lahan salin di Jawa Tengah.
Setelah di Jawa Tengah, lanjut dia, padi varietas Inpari Unsoed 79 Agritan juga akan dikembangkan di lahan salin luar Jawa yang belum termanfaatkan seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
"Ini suatu potensi bagi pemerintah sebagai satu sumber daya lahan yang bisa dimanfaatkan untuk membantu program pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk menuju Indonesia yang berswasembada beras," katanya.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
