
UNS Tambah Guru Besar Konversi Energi-Sosiologi Ekonomi

Solo, ANTARA JATENG - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menambah dua guru besar di bidang Konversi Energi dan Sosiologi Ekonomi yang rencananya akan dikukuhkan di Auditorium UNS, Kamis (23/2).
Deputi Humas UNS Surakarta Andre Rahmanto, di Solo, Rabu, mengatakan Prof. Dr.techn. Suyitno,ST,MT akan dikukuhkan menjadi guru besar bidang Konversi Energi pada Fakultas Teknik dan Prof. Dr. Mahendra Wijaya, M.Si sebagai guru besar Sosiologi Ekonomi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNS.
Pidato Suyitno berjudul Revitalisasi Peran Ilmu Konversi Energi dalam Riset Dasar, Terapan, dan Komersialisasi Hasil Riset untuk Kemajuan Bangsa.
Andre Rahmanto mengatakan Suyitno pada pidatonya dalam acara pengukuhan guru besar akan menyoroti tentang potret kemajuan riset energi serta hilirisasi produk riset keteknikan di Indonesia yang saat ini masih diliputi ketidakteraturan yang besar dalam berbagai lini.
Suyitno mencontohkan pengalamannya di 2010-an saat kebijakan pemerintah yang sudah "on the track" untuk hilirisasi produk riset dari bio-fuel termasuk bioethanol dan biodiesel akhirnya terkendala oleh harga produksi, ketidakteraturan keinginan pemangku kepentingan, dan industri besar yang masih berpihak pada energi fosil.
Oleh karena itu, kata dia, sistem riset dan inovasi harus dapat dikelola dengan baik dan terarah agar dapat menjadi kendaraan pertumbuhan bangsa Indonesia secara eksponensial.
Menurut dia, peran dan kerja sama lembaga professional, universitas, industri, "science techno park" (STP), perbankan, pemerintah, media, dan masyarakat menjadi kunci tumbuhnya industri-industri berbasiskan riset.
Andre Rahmanto menjelaskan, Mahendra Wijaya akan menyampaikan pidato berjudul Penguatan Demokratisasi Ekonomi Lokal. Penguatan demokratisasi ekonomi lokal merupakan proses sosial ekonomi menuju demokrasi ekonomi yang berorientasi pada kebutuhan ekonomi rakyat.
Menurut dia, penguatan demokratisasi ekonomi lokal diperlukan untuk mengurangi ketimpangan sosial ekonomi di Indonesia.
Menurut dia, Indonesia saat ini, sedang mengalami masalah ketimpangan sosial ekonomi yang disebabkan oleh globalisasi pasar. Secara faktual globalisasi pasar mengakibatkan ketimpangan sosial ekonomi yang semakin tajam di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
Alternatif pemecahan masalah ketimpangan sosial ekonomi tersebut, lanjut dia, adalah memilih sistem perekonomian yang berpihak pada kebutuhan sosial ekonomi rakyat dan aktivitas-aktivitas ekonominya berlangsung secara demokratis. Penguatan demokratisasi ekonomi lokal merupakan solusinya.
Mahendra mengidentifikasi proses penguatan menuju demokrasi ekonomi lokal ditandai dengan tujuh praktik penguatan ekonomi lokal yaitu, penguatan ekonomi berbasis kearifan lokal; perekonomian lokal berbasis budaya kerja lokal; penguatan koperasi sebagai lembaga ekonomi di pedesaan; perekonomian dikelola berdasarkan budaya lokal; pemberdayaan masyarakat golongan ekonomi lemah; pasar tradisional berfungsi sebagai ketahanan ekonomi lokal, dan fungsi sosial ekonomi industri pedesaan.
Pewarta : Bambang Dwi Marwoto
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
