Logo Header Antaranews Jateng

Kurangi Pencemaran, Industri Batik Diwajibkan Bangun IPAL

Rabu, 23 September 2015 13:50 WIB
Image Print
Ilustrasi - Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). (Foto ANTARA)

"Ke depan harus ada IPAL di semua industri batik karena kalau tidak (lingkungan) akan rusak semuanya dan saya khawatir ini ditarik pada situasi politik bahwa batik itu pencemar lingkungan sehingga industri batik akan mati," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Kota Pekalongan, Rabu.

Hal tersebut disampaikan Ganjar usai meninjau IPAL industri batik di Kelurahan Poncol dan Kelurahan Kauman, Kecamatan Pekalongan Timur.

Ganjar menilai bahwa batik itu merupakan karya anak bangsa sekaligus "heritage" Indonesia sehingga efek yang timbul dari industri batik harus bisa ditanggulangi dengan teknologi yang ada.

Menurut Ganjar, saat ini sedang dipilih salah satu IPAL yang paling bagus dan akan direplikasi ke semua industri batik di Jateng sesuai dengan kondisi daerah yang berbeda-beda.

"IPAL akan direplikasi tergantung kondisi karena tidak semua industri batik berkelompok menjadi satu, sedang dicarikan solusi bagaimana yang memungkinkan agar mereka mau membuang limbah dengan benar aerta mengolah limbah dengan cara yang benar karena regulasinya mengenai hal itu sudah ada," ujarnya.

Penjabat Wali Kota Pekalongan Priyo Anggoro menjelaskan bahwa IPAL industri batik di Kelurahan Kauman mulai dioperasikan pada 2010 dengan tujuan untuk mengolah limbah batik uang dihasilkan seluruh industri batik di kelurahan setempat agar limbah tidak mencemari lingkungan serta aman saat dibuang langsung ke sungai.

"Limbah cair yang dihasilkan industri batik sulit diuraikan secara alamiah oleh mikro organisme karena sebagian besar terdiri dari bahan kimia," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, dibangun IPAL industri batik yang antara lain terdiri dari bak equalisasi, bak aerasi, "clarifier" biologi, bak kimia, "clarifier" kimia, dan bak lumpur.



Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026