
Anglo Asal Sukoharjo Masih Diminati Konsumen

Supinah (63) seorang pengrajin warga Desa Windan RT 01 RW VI Kartasura, Sukoharjo, Rabu, mengatakan, pengrajin anglo tetap memproduk alat untuk memasak tradisional tersebut karena masyarakat masih banyak yang membutuhkan terutama di daerah pedesaan dan sebagian kota.
Supinah seorang nenek bercucu lima tersebut sebagai pengrajin anglo hanya melanjutkan usaha orang tuanya, sejak 1975 hingga sekarang. Orang tuanya usaha membuat anglo ini, pada 1960-an.
Menurut dia, dirinya melanjutkan usaha membuat anglo tersebut karena dituntut biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan pelanggan juga masih membutuhkan alat masak itu.
"Anglo di pedesaan masih banyak yang menggunakan, meski menurun dratis sejak ada program elpiji tiga kilogram. Masyarakat kota yang masih menggunakan anglo, biasanya para pedagang makanan, restoran yang menunya bakar," katanya.
Menurut dia, kerajinan anglo di desa tersebut semakin jarang dan hampir punah, tetapi masih banyak masyarakat yang menggunakan alat masak anglo dengan bahan bakar arang ini. Dirinya kemudian bertekat tetap melanjutkan produksi dan sambil melestarikan alat masak tradisional ini.
"Hasilnya lumayan bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," kata Supinah.
Supinah menjelaskan, dirinya mampu memproduksi anglo dal;am bentuk masih mentah sekitar 12 hingga 14 biji per hari. Pada proses pembakaran hingga menjadi anglo siap pakai arata-rata produksi sekitar 80 hingga 100 biji per bulan.
Menurut dia, anglo produksinya biasa dijual dengan harga Rp4.000 per biji untuk ukuran kecil dan Rp7.500 per biji ukuran besar. Barang produksinya banyak dijual di wilayah Sukoharjo, Solo, Klaten, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, dan Boyolali.
"Saya dari hasil kerajinan ini, omzet lumayan bisa mencapai minimal sekitar Rp350 ribu per minggu," katanya.
Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
