Logo Header Antaranews Jateng

Tumbuh ikhtiar bersama kawal masa emas anak di PKD Sumingkir

Sabtu, 28 Februari 2026 04:28 WIB
Image Print
Pelatihan SPRING, atau Early Stimulation in Primary Health Service Integration, sebuah inisiatif kolaboratif antara Tanoto Foundation dan Pemerintah Kabupaten Tegal. (HO - Tanoto Foundation)

Slawi (ANTARA) - Tawa anak-anak terdengar riuh dari ruangan Pos Kesehatan Desa (PKD) Sumingkir, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal.

Sebagian anak terlihat sibuk menyusun puzzle, sebagian lainnya mencoba mengenal huruf dengan didampingi orang tua dan kader.

Suasana itu menunjukkan perubahan baru di PKD Sumingkir, yang kini tidak hanya melayani penimbangan balita dan pemberian vitamin, tetapi juga menjadi ruang belajar tumbuh kembang anak usia dini.

Perubahan tersebut hadir melalui SPRING, atau Early Stimulation in Primary Health Service Integration, sebuah inisiatif kolaboratif antara Tanoto Foundation dan Pemerintah Kabupaten Tegal.

Lewat pendekatan ini, perhatian terhadap anak tidak berhenti pada pertumbuhan fisik, tetapi juga diarahkan pada perkembangan otak, bahasa, motorik, sosial, dan emosional sejak usia dini.

Setelah kegiatan stimulasi, ruangan yang semula dipenuhi aktivitas anak berubah menjadi tempat pertemuan lintas sektor.

Kepala Desa Sumingkir, bidan desa, kader, tokoh masyarakat, perwakilan puskesmas, dan tim Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal duduk bersama membicarakan satu hal yang sama, yakni bagaimana memastikan anak-anak di desa mendapat pendampingan terbaik pada masa awal kehidupannya.

Kepala Desa Sumingkir, Khasan Ali, mengatakan layanan kesehatan desa selama ini memang banyak bertumpu pada pemantauan fisik dan upaya pencegahan stunting.

Namun, menurutnya, kebutuhan anak pada masa awal kehidupan jauh lebih luas dari itu.

“Kalau dulu lebih ke tinggi badan, berat badan. Sekarang ditambah stimulasi perkembangan otak. Ini penting sekali karena usia 0 sampai 6 tahun adalah masa emas,” ujarnya.

Baginya, stimulasi dan pola asuh pada usia dini bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan investasi jangka panjang untuk menyiapkan kualitas sumber daya manusia sejak awal. Ia mengaku tanda-tanda manfaatnya pun mulai terlihat.

Anak-anak dinilai lebih aktif dan percaya diri, sementara orang tua mulai lebih paham dalam mendampingi proses belajar dan tumbuh kembang anak di rumah.

Dukungan pemerintah desa, lanjut Khasan Ali, juga diwujudkan dalam alokasi anggaran kesehatan tahun 2026 yang mencapai hampir Rp100 juta dari dana desa. Anggaran itu dipergunakan untuk bidang kesehatan seperti operasional Posyandu berbasis Integrasi Layanan Primer, pelayanan kesehatan dasar, dan dukungan untuk kegiatan stimulasi anak usia dini.

“Kader ini pejuang. Kita dorong secara moral supaya terus berbuat baik untuk masa depan anak-anak desa,” katanya.

Pelatihan SPRING, atau Early Stimulation in Primary Health Service Integration, sebuah inisiatif kolaboratif antara Tanoto Foundation dan Pemerintah Kabupaten Tegal. (HO - Tanoto Foundation)

Di Sumingkir, kegiatan stimulasi disusun berdasarkan kelompok umur. Anak usia 0 sampai 2 tahun mengikuti kelas pada hari Senin, kelompok usia 2 sampai 4 tahun pada hari Rabu, sedangkan usia 4 sampai 6 tahun pada hari Sabtu. Setiap kelas diikuti sekitar 12 anak bersama orang tua mereka.

Bidan Desa Sumingkir yang juga menjadi koordinator kegiatan, Siti Mafruroh, menjelaskan bahwa pendekatan belajar dibuat sederhana dan menyenangkan.

Anak-anak tidak dipaksa menerima materi formal, melainkan diajak belajar sambil bermain sesuai tahap usianya. Untuk bayi dan batita, fokus kegiatan ada pada interaksi dan respons sensorik.

Pada usia berikutnya, anak mulai dikenalkan pada warna, gerak, komunikasi, membaca awal, berhitung sederhana, hingga latihan mengendalikan diri.

Menurut Siti, selama ini masih banyak orang tua yang menaruh perhatian besar pada berat badan atau tinggi badan anak, tetapi belum sepenuhnya menyadari pentingnya stimulasi perkembangan.

“Kalau tidak diberi stimulasi, perkembangan anak bisa berbeda. Padahal 90 persen perkembangan otak terjadi sebelum usia lima tahun,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar bagi orang tua. Mereka tidak hanya mengantar anak, tetapi ikut melihat, memahami, dan mempraktikkan cara mendampingi anak sesuai usia dan kebutuhannya.

Sebelum kegiatan ini berjalan, para kader dari posyandu dan PKD terlebih dahulu mendapatkan pelatihan dari Tanoto Foundation pada akhir 2025.

Setelah itu, mereka bertugas meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada kader lain dan keluarga di Desa Sumingkir.

Pola ini diharapkan membuat pengetahuan tentang pengasuhan dan stimulasi tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Kesehatan Anak dan Remaja Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, Yuda Ayu Timorini, menilai kegiatan ini memberi nilai tambah karena memperkuat kapasitas kader dalam stimulasi dan deteksi dini tumbuh kembang anak.

“Anak yang mendapatkan stimulasi dengan yang tidak, perkembangannya pasti berbeda. Kebutuhan dasar anak itu asah, asih, dan asuh. Stimulasi ini bagian dari asah yang sangat penting,” ujarnya.

Menurut Yuda, model seperti ini sejalan dengan upaya penguatan kapasitas kader yang selama ini juga terus didorong Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal.

Tantangannya memang tidak ringan, mengingat jumlah kader di kabupaten ini mencapai lebih dari 7.000 orang, sementara dukungan anggaran memiliki keterbatasan. Meski demikian, ia berharap praktik yang mulai tumbuh di Desa Sumingkir dapat menginspirasi desa-desa lain.

“Harapannya nanti ini bisa diadopsi di desa lain, bahkan seluruh desa di Kabupaten Tegal,” tegasnya.

Penguatan stimulasi dini di Sumingkir juga tidak berjalan sendiri. Tokoh masyarakat setempat, Ustadz Muhdori, ikut mengambil peran dengan menyampaikan edukasi kepada warga dalam berbagai forum pertemuan masyarakat.

Menurutnya, setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda, dan orang tua perlu semakin sadar bahwa perubahan zaman ikut memengaruhi pola pengasuhan.

“Kita mendidik anak-anak usia 0 sampai 6 tahun sampai remaja itu penting dan harus diperhatikan. Sebelum mendidik anak orang lain, khususnya bagi para kader, maka kita harus mendidik anak kita dahulu dengan baik,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa pendidikan anak tidak cukup hanya bertumpu pada kemampuan akademik. Perilaku, tata krama, dan akhlak juga harus dibentuk sejak awal.

“Yang penting tata krama. Kalau pintar, tapi tak punya tata krama, bisa menghancurkan diri kita sendiri,” katanya.

Dari sisi mitra pembangunan, Regional Lead Tanoto Foundation, Anang Ainur Roziqin, mengatakan pendekatan yang dibangun dalam SPRING memang dirancang untuk memperkuat peran keluarga dan lingkungan sekitar sebagai fondasi utama tumbuh kembang anak.

Karena itu, perhatian tidak hanya diberikan pada kesehatan dan gizi, tetapi juga pada pola asuh, stimulasi sejak dini, dan lingkungan yang aman serta mendukung.

“Investasi pada periode awal kehidupan kami yakini memberi dampak jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan,” ujarnya.

Ia juga melihat adanya kekuatan penting di Sumingkir, yaitu keterlibatan banyak unsur sekaligus, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, hingga tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Menurutnya, kolaborasi seperti inilah yang membuat perubahan perilaku pengasuhan lebih mungkin bertahan dalam jangka panjang.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026