Banyumas (ANTARA) - Budayawan, seniman, dan akademisi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengajak masyarakat kembali pada roh Pancasila melalui forum refleksi Hari Lahir Pancasila 1 Juni yang digelar di Gubug Budaya Dalang Nawan, Desa Karangnangka, Senin sore.
Kegiatan yang diisi pembacaan geguritan, gendu-gendu rasa, orasi kebangsaan oleh pakar filsafat komunikasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Nana Sutikna, serta pameran lukisan "Riot Jiwa" karya perupa Cipto Pratomo itu menjadi ruang diskusi mengenai implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Penyelenggara kegiatan yang juga Ketua Yayasan Dhalang Nawan Bambang Barata Aji mengatakan peringatan Hari Lahir Pancasila tersebut rutin diselenggarakan setiap tahun sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada para pendiri bangsa yang telah merumuskan dasar negara Indonesia.
"Kami ini rutin setiap tahun sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada para pendiri bangsa yang luar biasa. Ketika Pancasila lahir, para pemimpin benar-benar memikirkan kemajuan Indonesia, memikirkan kebaikan sistem untuk menuju Indonesia yang adil dan makmur," katanya.
Menurut dia, para pendiri bangsa pada masa perumusan Pancasila menunjukkan semangat musyawarah yang kuat meskipun memiliki perbedaan pandangan karena mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Ia menilai semangat tersebut perlu terus dihidupkan kembali agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya diperingati secara seremonial, juga diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Ia mengatakan salah satu nilai yang saat ini perlu diperkuat kembali adalah gotong royong yang menjadi roh Pancasila.
"Kalau mau ngomong yang paling tergerus ya gotong royong. Roh Pancasila itu gotong royong. Itu yang menurut saya perlu terus dihidupkan kembali," katanya.
Menurut dia, kehidupan masyarakat sebenarnya tetap berjalan dengan berbagai inisiatif dan kreativitas yang tumbuh dari bawah sehingga diperlukan ruang-ruang perjumpaan yang memungkinkan masyarakat saling berdialog dan bertukar gagasan.
Ia mengapresiasi antusiasme peserta yang hadir dari berbagai latar belakang, mulai dari seniman, akademisi, pegiat budaya hingga kalangan muda, meskipun kegiatan tersebut disiapkan secara sederhana melalui komunikasi informal.
"Kita tidak ada kelompok-kelompok di sini. Semuanya pribadi-pribadi yang punya kepedulian. Acara sederhana seperti ini menunjukkan masih ada kebutuhan forum untuk bersama-sama berdiskusi dan menjaga semangat kebangsaan," kata Bambang.
Terkait dengan lukisan berjudul "Riot Jiwa" yang dipamerkan dalam kegiatan tersebut, perupa Cipto Pratomo mengatakan karya tersebut merefleksikan kegelisahan dan kegundahan yang muncul akibat berbagai persoalan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat.
"Lukisan ini saya beri judul 'Riot Jiwa', artinya kegelisahan dan kegundahan diri kita sendiri,” kata dia menegaskan.
Dalam satu badan besar yang diibaratkan sebagai negara, kata dia, persoalan yang muncul adalah ketidakadilan.
Oleh karena itu, lanjut dia, ada roh-roh yang berontak mencari keadilan.
“Mari kembali kepada energi roh Pancasila karena di dalam Pancasila mencakup seluruh nilai keadilan. Jika kita kembali ke sana, semua akan terbebas dari belenggu-belenggu ketidakadilan," katanya.
Cipto mengatakan pesan utama yang ingin disampaikan melalui karya tersebut adalah pentingnya menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pijakan dalam menghadapi berbagai persoalan kebangsaan, sehingga cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terwujud.
Selain menjadi ajang refleksi Hari Lahir Pancasila, kegiatan tersebut juga menampilkan ekspresi seni dan budaya yang diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga nilai persatuan, musyawarah, dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca juga: Bulog Banyumas percepat distribusi bantuan pangan