Semarang (ANTARA) - Bupati Blora, Jawa Tengah Arief Rohman menegaskan komitmennya menciptakan iklim investasi yang kondusif guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui kemudahan perizinan, kepastian hukum, dan pengembangan kawasan industri.

“Kalau investasi bisa masuk, otomatis akan berdampak pada perekonomian daerah. Karena itu kami berkomitmen memberikan pelayanan yang mudah dan tidak berbelit-belit,” kata Arief saat dihubungi di Blora, Rabu.

Untuk itu, ia meminta seluruh jajaran birokrasi memberikan pelayanan maksimal kepada investor melalui sistem pelayanan terpadu satu pintu serta tidak melakukan pungutan di luar ketentuan.

“Kalau masih ada yang mempersulit atau meminta sesuatu yang tidak sesuai aturan, silakan dilaporkan,” ujarnya.

Menurut dia, selain kemudahan perizinan, kepastian hukum juga menjadi faktor penting agar investor merasa aman menanamkan modal di Blora. Pemkab Blora terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum dan pihak terkait lainnya.

Pemkab Blora, kata dia, juga terus mengupayakan pengembangan infrastruktur penunjang investasi, termasuk jalan dan kawasan industri.

Arief mengungkapkan saat ini terdapat dua lokasi yang sedang diupayakan menjadi kawasan industri, di wilayah Sambong seluas sekitar 1.500 hektare dan kawasan kedua berada di area Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dekat dengan akses Tol Ngawi seluas kurang lebih 1.000 hektare.

Pemkab juga terus berkomunikasi dengan Kementerian Kehutanan terkait pengembangan kawasan tersebut.

“Kami ingin kawasan industri ini benar-benar terwujud karena akan menjadi penggerak ekonomi baru,” katanya.

Selain sektor industri, Pemkab Blora juga mendorong investasi di bidang pendidikan. Kehadiran kampus dan pusat pendidikan dinilai mampu memunculkan dampak ekonomi bagi masyarakat, seperti tumbuhnya usaha kos, kuliner, dan jasa lainnya.

Ia mencontohkan perkembangan kawasan pendidikan yang mulai memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar lokasi kampus.

Arief berharap seluruh elemen masyarakat mendukung upaya menarik investasi dengan menjaga kondisi daerah.

“Kalau ada investor datang jangan langsung dicurigai atau dipersulit. Kita harus kompak agar Blora semakin menarik bagi investor,” ujarnya.

Ia optimistis jika kawasan industri dan investasi terus berkembang, pertumbuhan ekonomi Blora dapat meningkat lebih tinggi dibanding capaian saat ini.

Sementara itu, salah seorang aktivis lokal Lilik Yuliantoro mengusulkan agar investasi yang masuk ke Blora lebih diarahkan pada sektor padat karya, seperti industri sepatu, tas, garmen, dan konveksi.

Menurutnya, sektor tersebut paling relevan dengan kebutuhan masyarakat karena mampu membuka lapangan kerja dalam jumlah besar bagi warga lokal.

Ia berharap, hadirnya investasi yang tepat sasaran tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga menjadi jalan bagi generasi muda Blora untuk membangun masa depan di tanah kelahirannya sendiri.