Solo (ANTARA) - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menyebut perlu adanya dukungan baik dari pemerintah maupun swasta untuk melestarikan kebudayaan Jawa. 

Pada peringatan Hari Tari Sedunia di Solo, Jawa Tengah, Rabu petang, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta sekaligus putri Pakubuwana XII GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng mengatakan Keraton Surakarta sudah berperan besar pada pergantian dari era kerajaan ke republik.

Oleh karena itu, ia menilai perlunya ada dukungan dari pemerintah maupun swasta untuk ikut tetap melestarikan budaya Keraton Surakarta.

Ia mengatakan saat ini salah satu perusahaan yang rutin memberikan dukungan dana yakni Wong Solo Group. Menurut dia, hal itu dibutuhkan agar kebudayaan yang dimiliki oleh keraton tidak dilupakan. Dukungan juga diberikan pada perhelatan Hari Tari Sedunia. 

“Dalam waktu dekat kami juga akan menata sanggar pedalangan yang sudah lama terbengkalai. Tempatnya sedang kami renovasi supaya nanti ada pembelajaran lagi pedalangan yang pastinya pakem keraton, kelihatannya sekarang jadi keresahan dalang bahwa pakem keraton mulai ditinggalkan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, pemilik Wong Solo Group Puspo Wardoyo mengatakan Keraton Surakarta merupakan salah satu kebanggaan warga Solo.

“Saya ikut berpartisipasi karena keraton termasuk kebanggaan saya, sebagai masyarakat Solo kita harus ikut nguri-uri, terutama termasuk budayanya,” katanya.

Ia ingin Keraton Surakarta tetap dihormati masyarakat seperti halnya yang terjadi di Yogyakarta.

“Apalagi ini kan keraton tertua. Harapan saya Keraton Solo tetap harus baik, rukun, kompak, dan kerja sama dengan pemerintah supaya bisa baik,” katanya.

Sementara itu, sejumlah tarian dihadirkan pada acara tersebut, salah satunya tarian bernama Bedaya Sukamulya yang diciptakan oleh Gusti Moeng yang dibantu oleh para pengrawit. 

Tarian tersebut sarat akan pesan moral dan spiritual. Nama tarian diambil dari kata suka yang berarti kebahagiaan dan mulyo yang berarti kemuliaan. Lewat tarian ini diharapkan agar tradisi Mataram senantiasa hidup dalam kebahagiaan dengan dilandasi oleh keluhuran budi dan kemuliaan jiwa.

Tarian yang dimainkan oleh sembilan perempuan muda ini merupakan turunan dari tarian Bedaya Ketawang. Tari Bedaya Sukamulya sendiri diciptakan oleh Gusti Moeng saat memperingati ulang tahun ke-80 PB XII.

Selanjutnya juga ada tarian Fragmen Tari Topeng Panji Sekartaji. Tarian tersebut menceritakan kisah cinta putri Kerajaan Kediri Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun yang merupakan Pangeran dari Jenggala.

Di akhir acara Gusti Moeng juga memberikan penghargaan kepada Puspo Wardoyo atas dedikasinya terhadap pelestarian budaya Jawa, khususnya Keraton Surakarta. 

Pada kesempatan itu, hadir juga Duta Besar Chili untuk Indonesia Mario Ignacio Artaza Loyola.