Solo (ANTARA) - Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kota Solo Ferry Indrianto menyebut stabilitas Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat akan menguatkan pariwisata di daerah.
Oleh karena itu, Ferry di Solo, Jawa Tengah, Senin mengatakan stabilitas di dalam Keraton Kasunanan Surakarta penting untuk dijaga karena stabilitas melahirkan kepastian.
Ia juga berharap dualisme di dalam Keraton Kasunanan Surakarta diharapkan cepat selesai. Jika berlarut-larut akan berdampak serius bagi perkembangan keraton dan juga perekonomian di Kota Solo.
"Ya kepastian adalah modal utama pembangunan," kata dia.
Ia mengatakan jika kondisi Keraton Surakarta solid maka kepastian itu tercipta. Selanjutnya, ketika kepastian ada maka kepercayaan publik tumbuh, hukum menjadi jelas, investasi mengalir, dan ekonomi bergerak.
"Inilah yang dibutuhkan Surakarta (Keraton Surakarta) hari ini, sebuah kerangka kepastian. Soliditas dan stabilitas harus dijaga," katanya.
Ia menjelaskan Keraton Surakarta baru dapat memainkan peran terbaiknya ketika semua pihak kembali pada jalan kebenaran, yakni menghimpun, mengkonsolidasikan, dan menyatukan seluruh unsur tanpa ada yang tertinggal.
Sementara itu, menurut dia dualisme keraton menjadi ruang kebijaksanaan untuk semua.
“Stabilitas keraton memang bermula dari harmoni internal keluarga besar. Namun manfaat dari stabilitas itu dirasakan oleh seluruh masyarakat, dunia usaha, pelaku pariwisata, hingga kawasan Solo Raya, pemerintah daerah dan pusat,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada satu pihak pun yang tertinggal untuk dapat memajukan Kota Solo, termasuk juga di dalamnya Keraton Surakarta.
"No one left behind. Ini bukan hanya tugas keluarga Keraton Surakarta, tapi juga tugas pemerintah untuk mengembalikan segala sesuatu pada ketentuan sebagaimana amanat sejarah dan aturan adat yang berlaku di Keraton Surakarta," jelasnya.
Meski demikian, di titik ini perlu dipahami bahwa urusan Keraton bukanlah persoalan publik yang dilempar kembali kepada masyarakat secara umum. Menurut dia, keraton adalah lembaga adat yang berdiri di atas paugeran atau peraturan dan harus dihormati sebagai dasar.
Mengembalikan urusan keraton kepada masyarakat tanpa merujuk paugeran justru berpotensi menimbulkan kebingungan, ketidakteraturan dan ketidaktepatan arah.
"Pada dasarnya masyarakat pun berharap pemerintah ikut menjaga paugeran (peraturan). Bukan melepaskan diri darinya," katanya.
Ferry menambahkan sejarah peradaban Jawa tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Keraton Kasunanan Surakarta. Dalam masa awal kemerdekaan, Keraton mengambil peran besar di antaranya mengakui kemerdekaan sehingga menjadi rujukan bagi kerajaan-kerajaan lain.
“Keraton bukan sekedar simbol budaya, melainkan aset strategis dalam struktur sosial, budaya, dan perekonomian kota Surakarta,” katanya.
Dia meyakini masa keemasan Keraton Surakarta akan terwujud ketika stabilitas dan soliditas internal terjaga, pasalnya keraton bukan hanya menggerakkan budaya tetapi juga sudah terbukti mampu menggerakkan ekonomi di Kota Solo.
“Maka dikhawatirkan akan menganggu perekonomian jika di dalam tubuh keraton tidak stabil,” katanya.
Selain itu, ia juga berharap tata kelolanya harus dikuatkan secara profesional dan akuntabel.
"Keraton itu menguatkan perekonomian, pariwisata, dan marwah kota. Dari sanalah Surakarta dapat menapaki kembali kejayaannya. Setiap puncak kejayaan Surakarta, baik pada era PB II, PB IV–V, PB X, maupun masa awal republik, selalu diawali oleh peran dan eksistensi keraton," katanya.

