Sukoharjo (ANTARA) - Lembaga Penelitian dan Pengembangan Aisyiyah (LPPA) Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Gumpang bekerja sama dengan Lembaga Pelatihan dan Kursus Pimpinan Ranting Muhammadiyah (LPK PRM) Gumpang, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah menggandeng Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meningkatkan literasi media digital melalui pelatihan jurnalistik.
Pada kegiatan yang diselenggarakan Minggu tersebut, dua dosen dari Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) UMS ikut berkontribusi sebagai narasumber.
Terkait dengan materi jurnalisme, Dosen Ilmu Komunikasi UMS Rona Rizkhy Bunga Chasana mengajak peserta untuk memahami nilai berita, struktur dasar penulisan berita, serta teknik penulisan berita.
"Dalam menulis berita jangan lupa untuk memenuhi unsur 5W1H, apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana. Lalu, sangat penting di dalam berita untuk menuliskan kutipan dari narasumber," katanya.
Ia mengatakan kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menambah wawasan dan meningkatkan kapasitas pengurus harian dan ketua majelis/lembaga PRA Gumpang, PRM Gumpang, serta PRA Makamhaji dalam memproduksi konten berita di media digital yang sesuai dengan etika.
Pada kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendengar pemaparan namun ikut aktif berlatih membuat berita baik secara kelompok maupun secara individu.
Wakil Ketua PCA Kartasura Ismokoweni mengatakan kegiatan tersebut penting dilakukan di tengah zaman yang saat ini serba digital.
"Sekarang semua sudah serba digital. Jadi, harapannya kegiatan seperti ini dapat bermanfaat bagi bapak ibu dari PRA dan PRM semuanya," katanya.
Dalam acara tersebut, Kaprodi Teknik Informatika UMS Dedi Gunawan yang juga menjadi pemateri memaparkan terkait pentingnya menjaga privasi dalam jurnalisme digital.
Menurut dia, di era digital semua orang bisa memproduksi informasi menjadi berita. Namun, perlu dipahami bahwa dalam memproduksi dan menyebarkan konten, diperlukan pemahaman terkait etika dan privasi.
"Ada banyak tantangan dalam jurnalisme digital. Seperti, berita palsu, etika jurnalisme, termasuk monetisasi konten. Jangan karena kita ingin berita kita viral lalu membuat judul yang click bait," katanya.
Selain tantangan tersebut, dikatakannya, penting juga bagi peserta untuk memperhatikan privasi. Meski di Indonesia, peraturan terkait privasi berbeda dengan negara lainnya, namun menurut Dedi, peserta juga harus mulai sadar bahwa setiap orang memiliki hak privasi.
Dengan demikian, dalam pembuatan konten berita seperti berita foto, untuk perizinan kepada pihak yang difoto juga nampaknya harus mulai dipikirkan dan diperhatikan.
"Sekolah di Jepang menerapkan untuk meminta izin kepada orang tua secara tertulis apakah wajah putra-putrinya diperbolehkan masuk di web sekolah atau tidak? Jika orang tua tidak mengizinkan maka sekolah akan melakukan blur pada foto misalnya," katanya.
Sementara itu, selain memahami tantangan dan etika dalam jurnalisme media digital, peserta pelatihan juga diberikan pemahaman serta praktik langsung untuk membuat berita.
Sekitar 50 pengurus harian dan ketua majelis/lembaga dari PRA Gumpang, PRM Gumpang, serta PRA Makamhaji terlibat sebagai peserta dalam kegiatan pelatihan ini.