BPS: Jateng peringkat tiga nasional pertambahan penduduk miskin
Rabu, 15 Juli 2020 14:58 WIB
Kepala BPS Jateng Sentot Bangun Widoyono saat menyampaikan rilis secara daring di Semarang, Rabu. (ANTARA/ I.C.Senjaya)
Semarang (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Jawa Tengah menempati peringkat ketiga secara nasional dalam pertambahan jumlah penduduk miskin per Maret 2020, di bawah Jawa Barat dan Jawa Timur.
Kepala BPS Jawa Tengah Sentot Bangun Widoyono di Semarang, Rabu, mengatakan jumlah penduduk miskin provinsi ini hingga Maret 2020 tercatat bertambah 301.500 orang atau naik 0,83 persen di banding data September 2019.
"Jumlah penduduk miskin Jawa Tengah pada Maret 2020 mencapai 3,98 juta jiwa, naik di banding September 2019 yang mencapai 3,68 juta jiwa," katanya.
Pertambahan jumlah penduduk miskin tertinggi terjadi di Jawa Barat yang mencapai 544.300 jiwa, sementara Jawa Timur bertambah 363.100 jiwa.
Menurut dia, salah satu penyebab bertambahnya jumlah penduduk miskin tersebut yakni pandemi COVID-19.
"Saat pandemi ini banyak permintaan maupun mobilitas masyarakat yang turun, sehingga berdampak pula terhadap pendapatan," katanya.
Meski dampak secara langsung COVID baru terlihat pada Maret 2020, kata dia, rangkaian dari pengaruh pandemi ini sudah mulai terlihat sejak Januari hingga Februari.
"Saat mulai adanya larangan penerbangan, yang paling terdampak pada saat itu sektor pariwisata dan perhotelan," katanya.
Sementara jika dilihat dari golongannya, kata dia, peningkatan tertinggi kemiskinan tersebut terjadi pada kelompok penduduk sangat miskin.
"Ada peningkatan dari penduduk miskin menjadi sangat miskin. Jumlahnya naik sekitar 273 ribu orang," katanya.
Ia berharap kondisi ini tidak semakin bertambah pada periode survei September 2020 nanti.
Kepala BPS Jawa Tengah Sentot Bangun Widoyono di Semarang, Rabu, mengatakan jumlah penduduk miskin provinsi ini hingga Maret 2020 tercatat bertambah 301.500 orang atau naik 0,83 persen di banding data September 2019.
"Jumlah penduduk miskin Jawa Tengah pada Maret 2020 mencapai 3,98 juta jiwa, naik di banding September 2019 yang mencapai 3,68 juta jiwa," katanya.
Pertambahan jumlah penduduk miskin tertinggi terjadi di Jawa Barat yang mencapai 544.300 jiwa, sementara Jawa Timur bertambah 363.100 jiwa.
Menurut dia, salah satu penyebab bertambahnya jumlah penduduk miskin tersebut yakni pandemi COVID-19.
"Saat pandemi ini banyak permintaan maupun mobilitas masyarakat yang turun, sehingga berdampak pula terhadap pendapatan," katanya.
Meski dampak secara langsung COVID baru terlihat pada Maret 2020, kata dia, rangkaian dari pengaruh pandemi ini sudah mulai terlihat sejak Januari hingga Februari.
"Saat mulai adanya larangan penerbangan, yang paling terdampak pada saat itu sektor pariwisata dan perhotelan," katanya.
Sementara jika dilihat dari golongannya, kata dia, peningkatan tertinggi kemiskinan tersebut terjadi pada kelompok penduduk sangat miskin.
"Ada peningkatan dari penduduk miskin menjadi sangat miskin. Jumlahnya naik sekitar 273 ribu orang," katanya.
Ia berharap kondisi ini tidak semakin bertambah pada periode survei September 2020 nanti.
Pewarta : Immanuel Citra Senjaya
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BPS: KEK dan kawasan industri memiliki berkontribusi tumbuhkan ekonomi Jateng
12 February 2026 19:49 WIB
Luasan panen padi Jateng diperkirakan naik 115,98 ribu ha dibanding tahun sebelumnya
04 November 2025 8:33 WIB
BPS minta masyarakat jawab jujur dan akurat saat pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026
30 October 2025 16:58 WIB
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Wagub: Layanan aduan warga Jateng kini didekatkan ke daerah lewat cabang dinas
14 February 2026 22:11 WIB