Pemuda Muhammadiyah Banyumas diimbau tidak ikut "people power"
Jumat, 17 Mei 2019 19:59 WIB
Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Banyumas Nur Fauzi. (Foto: ANTARA/Dokumentasi)
Purwokerto (ANTARA) - Anggota Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah diimbau untuk tidak ikut serta dalam gerakan "people power" atau pengerahan kekuatan massa pada tanggal 22 Mei 2019, kata Ketua PDPM Kabupaten Banyumas Nur Fauzi.
"Insya Allah karena pertimbangan kehidupan bernegara supaya aman, tenteram, dan kondusif, Pemuda Muhammadiyah dan Kokam (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) Banyumas menolak adanya 'people power'. Artinya, kita tidak setuju adanya itu (pengerahan kekuatan massa, Red)," katanya, di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jumat.
Akan tetapi, kata dia, pihaknya belum bisa memastikan apakah instruksi atau imbauan tersebut ditaati oleh seluruh anggota PDPM Kabupaten Banyumas.
Menurut dia, tidak menutup kemungkinan ada anggota PDPM Kabupaten Banyumas yang terbawa mengikuti gerakan pengerahan kekuatan massa di Jakarta pada tanggal 22 Mei 2019.
"Kami sudah sampaikan bahwa itu (keterlibatan anggota PDPM dalam gerakan pengerahan kekuatan massa, Red) tanggung jawab masing-masing, tidak diperkenankan membawa nama Pemuda Muhammadiyah maupun Kokam," katanya lagi.
Lebih lanjut, Fauzi mengatakan PDPM Kabupaten Banyumas menolak "people power" karena gerakan tersebut berkaitan dengan kepemiluan, sehingga jika ada kecurangan, pelanggaran atau sengketa dalam Pemilu Serentak 2019 seharusnya diselesaikan melalui jalur yang telah ada, bukan dengan mengerahkan kekuatan massa.
Dalam hal ini, kata dia, penyelesaian permasalahan yang berkaitan dengan pemilu dapat dilakukan melalui Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) maupun Mahkamah Konstitusi.
Menurut dia, gerakan pengerahan kekuatan massa akan menimbulkan berbagai hal yang tidak bagus bagi bangsa dan negara Indonesia.
"Apa yang dimaksud dengan tidak bagus, ya menurut kita, gerakan 'people power' ini ada tambahan unsur agama. Jadi, saya melihat masyarakat yang mau bergerak membawa tambahan atau bungkus agama, sehingga mereka agak tertarik atau pun hadir karena merasa panggilannya adalah panggilan agama," katanya pula.
Ia mengatakan gerakan pengerahan kekuatan massa tersebut sangat berisiko dan berbahaya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Saya khawatir menimbulkan keributan, chaos maupun bentrok. Baik bentrok antarpendukung ataupun bentrok melawan pemerintah. Itu kalau satu hari selesai, kalau mereka bertahan, bisa jadi mengganggu pemerintahan pusat," katanya lagi.
"Insya Allah karena pertimbangan kehidupan bernegara supaya aman, tenteram, dan kondusif, Pemuda Muhammadiyah dan Kokam (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) Banyumas menolak adanya 'people power'. Artinya, kita tidak setuju adanya itu (pengerahan kekuatan massa, Red)," katanya, di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jumat.
Akan tetapi, kata dia, pihaknya belum bisa memastikan apakah instruksi atau imbauan tersebut ditaati oleh seluruh anggota PDPM Kabupaten Banyumas.
Menurut dia, tidak menutup kemungkinan ada anggota PDPM Kabupaten Banyumas yang terbawa mengikuti gerakan pengerahan kekuatan massa di Jakarta pada tanggal 22 Mei 2019.
"Kami sudah sampaikan bahwa itu (keterlibatan anggota PDPM dalam gerakan pengerahan kekuatan massa, Red) tanggung jawab masing-masing, tidak diperkenankan membawa nama Pemuda Muhammadiyah maupun Kokam," katanya lagi.
Lebih lanjut, Fauzi mengatakan PDPM Kabupaten Banyumas menolak "people power" karena gerakan tersebut berkaitan dengan kepemiluan, sehingga jika ada kecurangan, pelanggaran atau sengketa dalam Pemilu Serentak 2019 seharusnya diselesaikan melalui jalur yang telah ada, bukan dengan mengerahkan kekuatan massa.
Dalam hal ini, kata dia, penyelesaian permasalahan yang berkaitan dengan pemilu dapat dilakukan melalui Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) maupun Mahkamah Konstitusi.
Menurut dia, gerakan pengerahan kekuatan massa akan menimbulkan berbagai hal yang tidak bagus bagi bangsa dan negara Indonesia.
"Apa yang dimaksud dengan tidak bagus, ya menurut kita, gerakan 'people power' ini ada tambahan unsur agama. Jadi, saya melihat masyarakat yang mau bergerak membawa tambahan atau bungkus agama, sehingga mereka agak tertarik atau pun hadir karena merasa panggilannya adalah panggilan agama," katanya pula.
Ia mengatakan gerakan pengerahan kekuatan massa tersebut sangat berisiko dan berbahaya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Saya khawatir menimbulkan keributan, chaos maupun bentrok. Baik bentrok antarpendukung ataupun bentrok melawan pemerintah. Itu kalau satu hari selesai, kalau mereka bertahan, bisa jadi mengganggu pemerintahan pusat," katanya lagi.
Pewarta : Sumarwoto
Editor : Wisnu Adhi Nugroho
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mahasiswa KKN-Dik FKIP UMS dorong literasi digital di MTs Muhammadiyah 5 Jumantono
04 February 2026 15:02 WIB
Para siswa SMP Muhammadiyah PK Kottabarat belajar hidup di desa lewat kegiatan live in
03 February 2026 17:26 WIB
UMS kembangkan sistem pengelolaan limbah plastik medis di RS PKU Karanganyar
03 February 2026 16:53 WIB
FKIP UMS dorong transformasi digital, mahasiswa KKN gelar pelatihan AI di SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri
02 February 2026 16:46 WIB
Mahasiswa KKN-Dik UMS sukses dukung milad ke-25 SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro
27 January 2026 13:00 WIB
UMS dipercaya PP Muhammadiyah kembangkan infrastruktur geospasial persyarikatan
27 January 2026 12:52 WIB
Tim Pengabdian UMS serahkan media pembelajaran kit listrik dinamis ke SMP Muhammadiyah 1 Kartasura
26 January 2026 13:07 WIB
Humas UMS dampingi SD Muhammadiyah Palur kelola konten digital perkuat branding sekolah
25 January 2026 18:29 WIB
UMS kembangkan Lab School dan lakukan benchmarking ke SD Muhammadiyah 1 Candi Umsida
23 January 2026 20:14 WIB
UMS dorong inovasi pembelajaran matematika berbasis TIK untuk guru SMK Muhammadiyah Klaten
21 January 2026 13:57 WIB
Diktilitbang PP Muhammadiyah sebut lonjakan guru besar jadi bukti UMS pada mutu pendidikan tinggi
21 January 2026 13:54 WIB
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Pertamina: Proyek minyak jelantah untuk energi hijau perkuat ketahanan energi
06 February 2026 20:28 WIB
Pemkot Semarang siapkan penyelenggaraan karnaval Dugderan jelang Ramadhan
06 February 2026 19:33 WIB