Dosen Unsoed: Membangun rumah tahan gempa itu penting
Kamis, 19 April 2018 14:04 WIB
Dokumentasi. Sejumlah penduduk melintas di depan rumah tahan gempa atau biasa disebut rumah dome, Prambanan, Sleman, Yogyakarta, Minggu (4/10). Rumah dome pemberian Amerika tersebut bisa menjadi alternatif bangunan tahan gempa, mengingat Indonesia merupakan negara rawan gempa. (Foto: ANTARA/Regina Safri)
Purwokerto (Antaranews Jateng) - Prinsip pembangunan rumah sederhana tahan gempa sangat penting untuk meminimalkan dampak kerusakan bangunan akibat guncangan gempa, kata dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman Nanang Gunawan.
"Membangun rumah tahan gempa tentunya akan lebih baik sebagai upaya pengurangan risiko gempa," katanya di Purwokerto, Kamis.
Dia menambahkan pihak terkait mulai dari pemerintah daerah hingga perguruan tinggi perlu membangun kesadaran masyarakat untuk membangun rumah tahan gempa.
"Kesadaran masyarakat membangun rumah tahan gempa perlu ditingkatkan," katanya.
Prinsip rumah tahan gempa meliputi perencanaan denah bangunan, perencanaan pondasi, perencanaan kolom praktis, perencanaan balok ring, perencanaan dinding, perencanaan rangka atap, sambungan tulangan antarelemen, dan penggunaan material.
Misalkan, denah bangunan perlu dibuat sederhana dan simetris tanpa banyak tonjolan. Contoh denah yang simetris adalah persegi panjang dan lingkaran.
"Selain itu, pondasi rumah juga harus bertumpu pada tanah yang cukup keras. Untuk pondasi batu kali, minimum kedalaman adalah 50 centimeter dan dibuat secara menerus dan saling menutup. Sementara dinding dapat menggunakan bata merah atau bata ringan. Prinsip dari pemasangan dinding adalah selalu terkekang sisi luarnya oleh sloof, kolom praktis, dan balok ring," katanya.
Sedangkan prinsip penggunaan material penutup atap, menurut dia, adalah seringan mungkin seperti genteng metal sehingga akan mengurangi beban yang bekerja pada elemen struktur lainnya.
Selain itu, yang tidak kalah penting adalah penggunaan material pasir, yakni pasir yang digunakan harus yang bersih dengan kadar lumpur maksimum lima persen.
Sementara itu, gempa berkekuatan 4,4 SR mengguncang wilayah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Rabu (18/4).
Berdasarkan analisis BMKG, pusat gempa berlokasi di darat pada kedalaman 4 kilometer pada jarak 52 kilometer Utara Kebumen yang diakibatkan oleh aktivitas patahan atau sesar lokal.
BPBD Banjarnegara melaporkan, 316 bangunan rumah dan sejumlah fasilitas umum rusak akibat gempa.
"Membangun rumah tahan gempa tentunya akan lebih baik sebagai upaya pengurangan risiko gempa," katanya di Purwokerto, Kamis.
Dia menambahkan pihak terkait mulai dari pemerintah daerah hingga perguruan tinggi perlu membangun kesadaran masyarakat untuk membangun rumah tahan gempa.
"Kesadaran masyarakat membangun rumah tahan gempa perlu ditingkatkan," katanya.
Prinsip rumah tahan gempa meliputi perencanaan denah bangunan, perencanaan pondasi, perencanaan kolom praktis, perencanaan balok ring, perencanaan dinding, perencanaan rangka atap, sambungan tulangan antarelemen, dan penggunaan material.
Misalkan, denah bangunan perlu dibuat sederhana dan simetris tanpa banyak tonjolan. Contoh denah yang simetris adalah persegi panjang dan lingkaran.
"Selain itu, pondasi rumah juga harus bertumpu pada tanah yang cukup keras. Untuk pondasi batu kali, minimum kedalaman adalah 50 centimeter dan dibuat secara menerus dan saling menutup. Sementara dinding dapat menggunakan bata merah atau bata ringan. Prinsip dari pemasangan dinding adalah selalu terkekang sisi luarnya oleh sloof, kolom praktis, dan balok ring," katanya.
Sedangkan prinsip penggunaan material penutup atap, menurut dia, adalah seringan mungkin seperti genteng metal sehingga akan mengurangi beban yang bekerja pada elemen struktur lainnya.
Selain itu, yang tidak kalah penting adalah penggunaan material pasir, yakni pasir yang digunakan harus yang bersih dengan kadar lumpur maksimum lima persen.
Sementara itu, gempa berkekuatan 4,4 SR mengguncang wilayah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Rabu (18/4).
Berdasarkan analisis BMKG, pusat gempa berlokasi di darat pada kedalaman 4 kilometer pada jarak 52 kilometer Utara Kebumen yang diakibatkan oleh aktivitas patahan atau sesar lokal.
BPBD Banjarnegara melaporkan, 316 bangunan rumah dan sejumlah fasilitas umum rusak akibat gempa.
Pewarta : Wuryanti Puspitasari
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BI Jateng: Sinergi dorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan berdaya tahan
29 November 2025 20:35 WIB
Terpopuler - Bencana Alam
Lihat Juga
Potensi kerugian akibat banjir di sejumlah desa Kudus ditaksir Rp533 miliar
19 January 2026 19:19 WIB
Perjalanan 23 KA Daop 4 Semarang masih dibatalkan dampak banjir di Pekalongan
19 January 2026 9:00 WIB