Warga Kirab "Merah Putih" Menuju Asrama Papua
Kamis, 17 Agustus 2017 21:03 WIB
Puluhan pasukan pataka dari warga Candi, Candisari, Semarang dan Karang Taruna Kota Semarang melakukan kirab bendera Merah-Putih dan lambang Garuda Pancasila menuju Asrama Mahasiswa West Papua, Semarang, Kamis (17/8) (Foto: ANTARAJATENG.COM/Zuhdiar L
Semarang, ANTARA JATENG - Karang Taruna Kota Semarang bersama warga Kelurahan Candi, Candisari, Semarang, Jawa Tengah, Kamis, menggelar kirab bendera Merah Putih menuju asrama mahasiswa Papua di wilayah tersebut.
Kirab bendera Merah Putih dan lambang Garuda Pancasila untuk merayakan Hari Ulang Tahun Ke-72 Republik Indonesia itu mulai dari Balai RW IV menuju Asrama Mahasiswa West Papua yang berjarak sekitar 300 meter.
Peserta kirab itu terdiri atas 20 pemuda-pemudi warga setempat, beserta 50 anggota Karang Taruna Semarang yang mengenakan seragam putih, diikuti oleh warga sekitar, dan perwakilan jajaran muspida yang hadir.
Sesampainya di Asrama Mahasiswa West Papua, dilakukan upacara penyambutan dan pembacaan Pancasila yang dilanjutkan penyerahan lambang Garuda Pancasila untuk berukuran besar untuk dipasang di depan asrama itu.
Ketua Panitia Bulan Kemerdekaan RW IV Teguh Irawan menjelaskan keberadaan asrama mahasiswa Papua di wilayah tersebut relatif cukup lama dan selama ini sudah terjalin interaksi yang baik.
Kirab bendera Merah Putih itu dilakukan, kata dia, berkaitan dengan masih berkembangnya isu kemerdekaan Papua untuk memisahkan diri dari Indonesia sehingga ditunjukkanlah kebersamaan dengan kirab tersebut.
"Jumlah peserta kirab `Garuda Pancasila, Akulah Pendukungmu` ada 70 orang. Itu menyesuaikan angka yang tertera pada hari kemerdekaan RI, yakni 17-8-45 yang kalau semua bilangannya dijumlah semuanya jadi 70," kata Teguh.
Ketua Karang Taruna Kota Semarang I Gede Ananta Wijaya menjelaskan bahwa kirab itu untuk menegaskan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menjadi kewajiban bersama seluruh warga negara Indonesia.
"Selama ini, terjadi degradasi di kalangan pemuda terhadap Pancasila dengan munculnya aksi-aksi anarkis, ekstrimisme, dan sebagainya sehingga diperlukan upaya penguatan semangat nasionalisme dan cinta Tanah Air," katanya.
Melalui kirab tersebut, kata dia, dimaksudkan untuk saling mengingatkan sebagai satu bangsa yang berkewajiban menjaga keutuhan NKRI, dan kebetulan di wilayah tersebut terdapat asrama untuk mahasiswa dari Papua.
Sementara itu, Kepala Asrama Mahasiswa West Papua Semarang Sam yang juga pembina warga dan mahasiswa Papua di Semarang mengapresiasi inisiatif warga sekitar melakukan kirab dan penyerahan lambang Garuda Pancasila.
"Ini menunjukkan sebuah kebersamaan sebagaimana sudah digariskan pendiri bangsa dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kebetulan, lambang Garuda Pancasila berukuran besar memang kami belum punya," katanya.
Pemasangan lambang Garuda Pancasila di dinding muka Asrama Mahasiswa West Papua Semarang itu, kian melengkapi bendera Merah Putih yang sudah berkibar di halaman depan asrama yang dihuni sekitar 30 mahasiswa asal Papua itu.
Sam menegaskan komitmen warga dan mahasiswa Papua, terutama yang bermukim di Semarang, sebagai bagian integral dari bangsa dan negara, apalagi asrama itu bernilai sejarah karena merupakan hadiah dari Presiden RI Soekarno.
"Asrama ini pemberian almarhum Soekarno waktu integrasi Irian Barat pada tahun 1963. Jadi, ada nilai historis tersendiri yang menguatkn komitmen kebersamaan dan persaudaraan dalam Bhinneka Tunggal Ika," pungkasnya.
Kirab bendera Merah Putih dan lambang Garuda Pancasila untuk merayakan Hari Ulang Tahun Ke-72 Republik Indonesia itu mulai dari Balai RW IV menuju Asrama Mahasiswa West Papua yang berjarak sekitar 300 meter.
Peserta kirab itu terdiri atas 20 pemuda-pemudi warga setempat, beserta 50 anggota Karang Taruna Semarang yang mengenakan seragam putih, diikuti oleh warga sekitar, dan perwakilan jajaran muspida yang hadir.
Sesampainya di Asrama Mahasiswa West Papua, dilakukan upacara penyambutan dan pembacaan Pancasila yang dilanjutkan penyerahan lambang Garuda Pancasila untuk berukuran besar untuk dipasang di depan asrama itu.
Ketua Panitia Bulan Kemerdekaan RW IV Teguh Irawan menjelaskan keberadaan asrama mahasiswa Papua di wilayah tersebut relatif cukup lama dan selama ini sudah terjalin interaksi yang baik.
Kirab bendera Merah Putih itu dilakukan, kata dia, berkaitan dengan masih berkembangnya isu kemerdekaan Papua untuk memisahkan diri dari Indonesia sehingga ditunjukkanlah kebersamaan dengan kirab tersebut.
"Jumlah peserta kirab `Garuda Pancasila, Akulah Pendukungmu` ada 70 orang. Itu menyesuaikan angka yang tertera pada hari kemerdekaan RI, yakni 17-8-45 yang kalau semua bilangannya dijumlah semuanya jadi 70," kata Teguh.
Ketua Karang Taruna Kota Semarang I Gede Ananta Wijaya menjelaskan bahwa kirab itu untuk menegaskan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menjadi kewajiban bersama seluruh warga negara Indonesia.
"Selama ini, terjadi degradasi di kalangan pemuda terhadap Pancasila dengan munculnya aksi-aksi anarkis, ekstrimisme, dan sebagainya sehingga diperlukan upaya penguatan semangat nasionalisme dan cinta Tanah Air," katanya.
Melalui kirab tersebut, kata dia, dimaksudkan untuk saling mengingatkan sebagai satu bangsa yang berkewajiban menjaga keutuhan NKRI, dan kebetulan di wilayah tersebut terdapat asrama untuk mahasiswa dari Papua.
Sementara itu, Kepala Asrama Mahasiswa West Papua Semarang Sam yang juga pembina warga dan mahasiswa Papua di Semarang mengapresiasi inisiatif warga sekitar melakukan kirab dan penyerahan lambang Garuda Pancasila.
"Ini menunjukkan sebuah kebersamaan sebagaimana sudah digariskan pendiri bangsa dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kebetulan, lambang Garuda Pancasila berukuran besar memang kami belum punya," katanya.
Pemasangan lambang Garuda Pancasila di dinding muka Asrama Mahasiswa West Papua Semarang itu, kian melengkapi bendera Merah Putih yang sudah berkibar di halaman depan asrama yang dihuni sekitar 30 mahasiswa asal Papua itu.
Sam menegaskan komitmen warga dan mahasiswa Papua, terutama yang bermukim di Semarang, sebagai bagian integral dari bangsa dan negara, apalagi asrama itu bernilai sejarah karena merupakan hadiah dari Presiden RI Soekarno.
"Asrama ini pemberian almarhum Soekarno waktu integrasi Irian Barat pada tahun 1963. Jadi, ada nilai historis tersendiri yang menguatkn komitmen kebersamaan dan persaudaraan dalam Bhinneka Tunggal Ika," pungkasnya.
Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
14 desa di Temanggung mengajukan sewa lahan untuk gerai Koperasi Merah Putih
14 January 2026 10:14 WIB
Mahasiswa KKN UNS jadi Duta Penguatan Koperasi Merah Putih dan Jaminan Sosial
06 January 2026 18:49 WIB
Merah Putih Coffee & Eatery inovasi unit usaha koperasi penggerak ekonomi kreatif
25 December 2025 5:08 WIB
Terpopuler - Seni dan Budaya
Lihat Juga
Balefest 2025 Suarasa Balekambang siap hibur masyarakat pada pergantian tahun
08 December 2025 19:39 WIB
Kaligrafi China dan Arab berpadu dalam pameran Tiongkok-Indonesia di Banyumas
25 November 2025 14:41 WIB
Sumanto ajak masyarakat pahami pesan moral dalam lakon Wayang Kulit Kresna Duta
21 November 2025 17:27 WIB