Tenangkan Diri dengan Menarik Nafas Dalam
Senin, 3 April 2017 13:34 WIB
Ilustrasi yoga ( REUTERS/Eric Thayer)
Jakarta, ANTARA JATENG - Kala ketegangan menghantui Anda, banyak orang
yang menyarankan untuk menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya
perlahan. Tahukah mengapa cara ini bisa berhasil?
Para ilmuwan dalam jurnal Science mengungkapkan bahwa sekelompok saraf di otak yang bertugas mengatur pernafasan terhubung langsung ke pusat gairah otak. Dengan kata lain, pernapasan berefek langsung pada aktivitas keseluruhan otak.
Hal ini berdasarkan percobaan yang dilakukan tim peneliti yang dipimpin Mark Krasnow, profesor biokimia dari Stanford University. Mereka mempelajari 3.000 neuron di batang otak tikus yang mengontrol semua pola pernafasan dari mulai pernafasan cepat-- biasanya manusia mengalaminya kala gembira--, lalu pernafasan lebih lambat misalnya saat menangis.
Mereka menempatkan tikus di sebuah kandang lalu memindahkannya ke kandang lain --lingkungan baru. Normalnya, ketika tikus menghadapi sesuatu yang baru, mereka gugup dan obsesif menjelajahi lingkungan baru mereka. Tapi yang terjadi adalah, tikus ini justru tenang dan beristirahat.
Rupanya, sebelum memindahkan tikus ke kandang baru, peneliti sempat "menganggu" saraf yang terhubung langsung ke pusat gairah otak, --menggunakan teknik genetik memanipulasi neuron tertentu untuk melihat apakah fungsi pernafasan terganggu.
Saraf ini memberitahu otak kala ada keadaan darurat atau menjaga otak tetap stabil, sekaligus mempertahankan rasa tenang.
"Kondisi tenang terjadi saat bernafas lebih lambat, yakni dengan menarik nafas dalam-dalam atau memperlambat nafas. Bernafas, dengan kata lain, dapat mengubah pikiran, atau keadaan pikiran kita," ujar Krasnow.
Namun, mengapa beberapa orang masih merasa cemas setelah menghirup nafas dalam-dalam beberapa waktu?
Ada kemungkinan bahwa variasi genetik menyebabkan respon saraf yang bertanggung jawab untuk mengatur pernafasan, tumpul, sehingga dibutuhkan lebih dari sekedar menarik nafas dalam-dalam agar otak terangsang ke keadaan tenang.
Dalam kasus tersebut, intervensi obat-obatan dimungkinkan.
Kendati begitu, dia tak akan menampik bahwa menarik nafas dalam-dalam sebagai cara untuk memerangi stres dan kecemasan. Demikian seperti dilansir Time.com.
Para ilmuwan dalam jurnal Science mengungkapkan bahwa sekelompok saraf di otak yang bertugas mengatur pernafasan terhubung langsung ke pusat gairah otak. Dengan kata lain, pernapasan berefek langsung pada aktivitas keseluruhan otak.
Hal ini berdasarkan percobaan yang dilakukan tim peneliti yang dipimpin Mark Krasnow, profesor biokimia dari Stanford University. Mereka mempelajari 3.000 neuron di batang otak tikus yang mengontrol semua pola pernafasan dari mulai pernafasan cepat-- biasanya manusia mengalaminya kala gembira--, lalu pernafasan lebih lambat misalnya saat menangis.
Mereka menempatkan tikus di sebuah kandang lalu memindahkannya ke kandang lain --lingkungan baru. Normalnya, ketika tikus menghadapi sesuatu yang baru, mereka gugup dan obsesif menjelajahi lingkungan baru mereka. Tapi yang terjadi adalah, tikus ini justru tenang dan beristirahat.
Rupanya, sebelum memindahkan tikus ke kandang baru, peneliti sempat "menganggu" saraf yang terhubung langsung ke pusat gairah otak, --menggunakan teknik genetik memanipulasi neuron tertentu untuk melihat apakah fungsi pernafasan terganggu.
Saraf ini memberitahu otak kala ada keadaan darurat atau menjaga otak tetap stabil, sekaligus mempertahankan rasa tenang.
"Kondisi tenang terjadi saat bernafas lebih lambat, yakni dengan menarik nafas dalam-dalam atau memperlambat nafas. Bernafas, dengan kata lain, dapat mengubah pikiran, atau keadaan pikiran kita," ujar Krasnow.
Namun, mengapa beberapa orang masih merasa cemas setelah menghirup nafas dalam-dalam beberapa waktu?
Ada kemungkinan bahwa variasi genetik menyebabkan respon saraf yang bertanggung jawab untuk mengatur pernafasan, tumpul, sehingga dibutuhkan lebih dari sekedar menarik nafas dalam-dalam agar otak terangsang ke keadaan tenang.
Dalam kasus tersebut, intervensi obat-obatan dimungkinkan.
Kendati begitu, dia tak akan menampik bahwa menarik nafas dalam-dalam sebagai cara untuk memerangi stres dan kecemasan. Demikian seperti dilansir Time.com.
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mahasiswa UMS bangun kesadaran diri pada generasi muda melalui Kampanye Attachment Style
21 December 2025 17:09 WIB
Seorang pengunjung mal di Solo diduga bunuh diri dengan melompat dari lantai 4
30 November 2025 21:37 WIB
SERUNI, ajang aktualisasi diri warga sekolah dalam penguatan literasi numerasi
28 November 2025 8:52 WIB
TK Bhayangkari 44 Kudus resmi mendeklarasikan diri sebagai sekolah ramah anak
20 November 2025 15:42 WIB
PLN sukses hadirkan listrik tanpa kedip pada ajang PON Bela Diri 2025 di Kudus
13 November 2025 17:39 WIB
Putra mahkota Keraton Surakarta Gusti Purboyo umumkan diri sebagai PB XIV
05 November 2025 13:39 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Pangeran asal Brunei Darussalam temui Ahmad Luthfi, jajaki investasi energi terbarukan di Jateng
06 February 2026 7:55 WIB
Peneliti ungkap spesies baru Nepenthes dari Kalbar, terpantau awal via medsos
24 January 2026 14:38 WIB
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB
Dosen UIN Walisongo paparkan metode melihat hilal yang lebih efisien dan tepat sasaran
30 October 2025 12:03 WIB