Petani Buah Naga Boyolali Kebanjiran Pesanan
Senin, 1 Februari 2016 23:45 WIB
Ilustrasi (ANTARA Foto/Saiful Bahri)
Wahyuni petani buah naga di Tawangsari Boyolali, Senin, mengatakan, permintaan buah naga menjelang Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 8 Februari 2016 meningkat hingga 30 hingga 40 persen dibanding bulan sebelumnya.
Namun, kata Wahyuni, disayangkan pada musim pada bulan ini, akibat dampak cuaca produksi menurun sekitar 30 hingga 35 persen.
Menurut dia, tanaman buah naga di perkebunannya sebanyak 4.000 batang, jika musim panen dan kondisi normal produksi rata-rata mencapai sekitar 30 ton.
Namun, kata dia, dampak cuaca yang sering turun hujan menyebabkan produksi menurun hingga sekitar 20 ton, sedangkan kualitas buahnya lebih kecil ukurannya dibanding biasanya.
Selain itu, kata dia, proses pembungaan menjadi lebih jarang, sehingga tingkat produksinya otomatis menurun dan periode panen menjadi agak lambat.
Menurut dia, jenis buah naga super red yang dikembangkan tersebut terhitung stabil harganya. Harga di tingkat petani rata-rata normal Rp10.000u per kilogram, sehingga pemasaran tidak terlalu sulit.
"Buah naga super red memiliki keunggulan antara lain rasanya lebih manis dan berkulit tipis, sehingga harganya lebih mahal," katanya.
Dia mengatakan menjelang Imlek buah naga merupakan salah satu santapan bagi warga keturunan Tionghoa yang merayakan perayaan Tahun Baru, sehingga permintaan selalu meningkat.
Namun, kata dia, pada hari-hari biasanya permintaan konsumen rata-rata sekali panen hanya lima hingga 10 ton. Buah ini, kebanyakan dikonsumsi untuk minuman jus atau langsung dimakan karena rasanya manis dan sejuk.
Menurut dia, hampir seluruh warga di Desa Tawangsari memiliki tanaman buha naga di halam rumahnya, tetapi khusus petani buah tidak banyak. Desa ini, hingga kini dikenal sebagai daerag sentra pertanian buah naga.
Namun, kata Wahyuni, disayangkan pada musim pada bulan ini, akibat dampak cuaca produksi menurun sekitar 30 hingga 35 persen.
Menurut dia, tanaman buah naga di perkebunannya sebanyak 4.000 batang, jika musim panen dan kondisi normal produksi rata-rata mencapai sekitar 30 ton.
Namun, kata dia, dampak cuaca yang sering turun hujan menyebabkan produksi menurun hingga sekitar 20 ton, sedangkan kualitas buahnya lebih kecil ukurannya dibanding biasanya.
Selain itu, kata dia, proses pembungaan menjadi lebih jarang, sehingga tingkat produksinya otomatis menurun dan periode panen menjadi agak lambat.
Menurut dia, jenis buah naga super red yang dikembangkan tersebut terhitung stabil harganya. Harga di tingkat petani rata-rata normal Rp10.000u per kilogram, sehingga pemasaran tidak terlalu sulit.
"Buah naga super red memiliki keunggulan antara lain rasanya lebih manis dan berkulit tipis, sehingga harganya lebih mahal," katanya.
Dia mengatakan menjelang Imlek buah naga merupakan salah satu santapan bagi warga keturunan Tionghoa yang merayakan perayaan Tahun Baru, sehingga permintaan selalu meningkat.
Namun, kata dia, pada hari-hari biasanya permintaan konsumen rata-rata sekali panen hanya lima hingga 10 ton. Buah ini, kebanyakan dikonsumsi untuk minuman jus atau langsung dimakan karena rasanya manis dan sejuk.
Menurut dia, hampir seluruh warga di Desa Tawangsari memiliki tanaman buha naga di halam rumahnya, tetapi khusus petani buah tidak banyak. Desa ini, hingga kini dikenal sebagai daerag sentra pertanian buah naga.
Pewarta : Bambang Dwi Marwoto
Editor : Zuhdiar Laeis
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
JKN hadir untuk keluarga: jadikan perjuangan Titah merawat buah hati tanpa cemas biaya
21 November 2025 18:16 WIB
Perhutani bantu 4.000 bibit tanaman buah untuk warga Desa Congkrang Temanggung
06 November 2025 12:57 WIB
Mahasiswa FIK UMS ciptakan camilan fungsional cegah obesitas berbahan bekatul dan buah naga
25 September 2025 20:50 WIB