
JKN hadir untuk keluarga: jadikan perjuangan Titah merawat buah hati tanpa cemas biaya

Solo (ANTARA) - Sebagai seorang ibu dari dua anak, Titah Asrani (35) yang merupakan warga Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah hanya memiliki satu keinginan sederhana, yakni memastikan anak-anaknya selalu sehat dan mendapat perlindungan terbaik.
Ia dan suami sepakat memilih Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS Kesehatan sebagai bentuk ikhtiar untuk menjaga keluarga kecil mereka. Sejak JKN hadir, banyak beban yang terasa jauh lebih ringan, termasuk bagi keluarga Titah.
Suaminya yang bekerja di sebuah perusahaan membuat keluarganya otomatis terdaftar sebagai peserta JKN segmen pekerja penerima upah (PPU). Bagi Titah, hal ini seperti memiliki pegangan kuat di saat genting. Ia tak lagi dihantui rasa takut soal biaya berobat, terutama ketika anaknya tiba-tiba jatuh sakit. Beberapa hari terakhir, Habibi anaknya mengalami demam yang tak kunjung turun.
“Sudah tiga hari badan Habibi panas. Dikasih obat turun sebentar, tapi panas lagi, kadang muntah. Masuk hari keempat, saya makin khawatir. Makanya cepat-cepat saya bawa ke klinik,” ucap Titah mengenang rasa cemas yang sempat menyelimuti hatinya.
Meski hasil laboratorium menunjukkan kondisi darahnya cukup baik, ada infeksi yang membuatnya harus terus dipantau.
“Sebagai ibu, saya ingin anak saya mendapatkan perawatan terbaik. Apalagi ia sudah tidak mau makan sama sekali,” tambahnya.
Titah juga pernah melewati masa yang jauh lebih berat. Habibi sempat dirawat inap selama empat hari tiga malam di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. Dalam masa penuh kecemasan itu, satu hal yang membuatnya bisa tetap tenang adalah kepastian bahwa seluruh biaya perawatan ditanggung oleh Program JKN. Tidak sedikit pun ia mengeluarkan biaya. Rasa syukur itu terus ia simpan hingga kini.
Pengalamannya bukan satu-satunya. Ia juga menyaksikan bagaimana Program JKN menolong tetangganya yang mengalami kecelakaan hingga harus menjalani operasi besar dan perawatan rutin.
Menurutnya, banyak warga di lingkungan tempat tinggalnya yang kini merasa lebih aman karena telah terdaftar sebagai peserta JKN.
“Kalau ada kejadian tidak terduga, tinggal datang ke fasilitas kesehatan tanpa takut soal biaya. Itu sangat melegakan,” ujarnya.
Setiap kali mendengar kata BPJS Kesehatan, Titah selalu teringat pada betapa besarnya manfaat JKN bagi masyarakat.
“Program ini benar-benar jadi andalan. Banyak yang tertolong, termasuk keluarga saya. Menurut saya ini program mulia. Iurannya bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga membantu orang lain yang sedang membutuhkan. Itu sesuai dengan budaya gotong-royong masyarakat kita,” tuturnya.
Bagi Titah, JKN bukan sekadar kartu. Ia adalah bentuk perlindungan yang harus disiapkan jauh sebelum sakit datang, seperti menyiapkan payung sebelum hujan. Kini, ia memastikan seluruh anggota keluarganya tetap aktif sebagai peserta.
“Sekarang mungkin sehat, tapi kita tidak pernah tahu ke depan. Mau sakit ringan atau harus rawat inap, biayanya pasti besar. Anak saya juga punya penyakit bawaan dan harus rutin kontrol ke rumah sakit. Biayanya tidak sedikit kalau ditanggung sendiri. Karena itu kami sangat mengandalkan JKN,” katanya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
