Belum Stabil, GPEI Tak Harapkan Kenaikan Volume Ekspor
Jumat, 27 November 2015 16:14 WIB
Pekerja melakukan proses bongkar muat peti kemas di Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jateng. (ANTARA FOTO/R. Rekotomo)
"Biasanya kalau akhir tahun seperti ini ada kenaikan volume ekspor yang cukup baik, antara 10-15 persen," kata Ketua GPEI Jateng Edi Raharto di Semarang, Jumat.
Namun, pada akhir tahun ini diakuinya kenaikan volume ekspor belum terlalu terasa.
Bahkan, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng menunjukkan pada Oktober lalu terjadi penurunan ekspor 0,25 persen dibandingkan dengan September yang senilai 435,33 juta dolar AS.
"Oleh karena itu, naik satu digit saja sudah bagus karena kami mengakui kondisi ekonomi global sedang labil dan ini berdampak pada permintaan negara-negara tujuan ekspor terhadap barang dari Indonesia," katanya.
Biasanya, kenaikan untuk permintaan akhir tahun terjadi mulai September hingga Desember. Beberapa komoditas yang banyak dikirim saat akhir tahun, di antaranya makanan, garmen, dan produk agro.
"Kalau permintaan mebel untuk ekspor memang belum terlalu terasa dari awal tahun hingga saat ini, bisa jadi karena produk mebel bukan barang yang harus diganti dengan cepat," katanya.
Selain itu, pasar terbesar mebel, di antaranya Eropa dan Amerika Serikat, kondisi ekonominya belum dapat dikatakan stabil sehingga cenderung membatasi pengeluaran mereka.
Pihaknya menyambut baik penurunan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang rupiah.
Meski demikian, pihaknya berharap penurunan tidak terjadi secara tiba-tiba dan cepat karena juga akan memengaruhi omzet eksportir dan industri berorientasi ekspor.
"Mudah-mudahan penurunan ini juga tidak berpengaruh terhadap industri mengingat biasanya perjanjian kerja sama untuk suplai bahan baku terjadi di awal produksi. Biasanya akan diperbarui beberapa bulan sekali," katanya.
Namun, pada akhir tahun ini diakuinya kenaikan volume ekspor belum terlalu terasa.
Bahkan, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng menunjukkan pada Oktober lalu terjadi penurunan ekspor 0,25 persen dibandingkan dengan September yang senilai 435,33 juta dolar AS.
"Oleh karena itu, naik satu digit saja sudah bagus karena kami mengakui kondisi ekonomi global sedang labil dan ini berdampak pada permintaan negara-negara tujuan ekspor terhadap barang dari Indonesia," katanya.
Biasanya, kenaikan untuk permintaan akhir tahun terjadi mulai September hingga Desember. Beberapa komoditas yang banyak dikirim saat akhir tahun, di antaranya makanan, garmen, dan produk agro.
"Kalau permintaan mebel untuk ekspor memang belum terlalu terasa dari awal tahun hingga saat ini, bisa jadi karena produk mebel bukan barang yang harus diganti dengan cepat," katanya.
Selain itu, pasar terbesar mebel, di antaranya Eropa dan Amerika Serikat, kondisi ekonominya belum dapat dikatakan stabil sehingga cenderung membatasi pengeluaran mereka.
Pihaknya menyambut baik penurunan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang rupiah.
Meski demikian, pihaknya berharap penurunan tidak terjadi secara tiba-tiba dan cepat karena juga akan memengaruhi omzet eksportir dan industri berorientasi ekspor.
"Mudah-mudahan penurunan ini juga tidak berpengaruh terhadap industri mengingat biasanya perjanjian kerja sama untuk suplai bahan baku terjadi di awal produksi. Biasanya akan diperbarui beberapa bulan sekali," katanya.
Pewarta : Aris Wasita
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bulog pastikan harga pangan di Banyumas stabil selama Ramadhan hingga Idul Fitri
03 March 2026 15:51 WIB
Jaga harga stabil, Bulog beli 30 ton gabah dari sawah terdampak banjir di Jateng
27 February 2026 15:39 WIB
Kapolres: Harga komoditas pangan strategis di Purbalingga stabil pada Ramadhan pekan kedua
26 February 2026 15:02 WIB
OJK Purwokerto menilai sektor jasa keuangan di Banyumas Raya tumbuh stabil
08 January 2026 14:37 WIB
Terpopuler - Bisnis
Lihat Juga
Gubernur Jateng: Harga kebutuhan pokok masyarakat tetap terkendali jelang Idul Adha
17 May 2026 19:02 WIB