Terserang Penyakit, Ratusan Bebek Mati
Selasa, 7 Oktober 2014 17:52 WIB
ilustrasi
"Dalam satu pekan terakhir, sebanyak 250 ekor bebek yang saya pelihara banyak yang mati. Sekarang hanya tersisa 100 ekor saja dan telah terserang penyakit," kata salah seorang peternak, Warman (38), di Desa Lesmana, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Selasa.
Sebelum mati, kata dia, bebek-bebek itu mengalami kejang dan matanya berwarna putih.
Bahkan kalau disentuh, lanjut dia, bebek-bebek itu kelabakan dan berjalan sempoyongan seperti orang mabuk.
"Gejala-gejala itu dialami bebek-bebek saya pada pagi hari dan banyak di antaranya yang sudah tergeletak mati. Dalam sehari, bebek yang mati bisa mencapai 30 ekor," katanya.
Dia mengaku mengalami kerugian hingga Rp7,5 juta akibat kejadian itu.
Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa berbagai langkah antisipasi telah dilakukan, antara lain dengan memisahkan antara bebek yang sakit dan bebek yang sehat.
Selain itu, dia juga telah memberi obat sesuai anjuran yang diberikan dokter hewan.
Akan tetapi, kata dia, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena bebek-bebek itu tetap mati.
Menurut dia, serangan penyakit itu juga mengakibatkan penurunan produksi telur.
"Biasanya, saya dalam sehari bisa memasok 150 butir telur bebek ke pedagang, tetapi sekarang hanya 90 butir saja. Saya tidak tahu jenis penyakit apa yang menyerang bebek-bebek itu," katanya.
Informasi yang dihimpun, kasus kematian bebek-bebek itu juga terjadi di Desa Cikembulan, Kecamatan Pekuncen, Banyumas.
Hingga berita ini diturunkan, Dinas Peternakan dan Perikanan (Dinnakkan) Kabupaten Banyumas belum bisa dikonfirmasi terkait kejadian tersebut.
Sebelum mati, kata dia, bebek-bebek itu mengalami kejang dan matanya berwarna putih.
Bahkan kalau disentuh, lanjut dia, bebek-bebek itu kelabakan dan berjalan sempoyongan seperti orang mabuk.
"Gejala-gejala itu dialami bebek-bebek saya pada pagi hari dan banyak di antaranya yang sudah tergeletak mati. Dalam sehari, bebek yang mati bisa mencapai 30 ekor," katanya.
Dia mengaku mengalami kerugian hingga Rp7,5 juta akibat kejadian itu.
Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa berbagai langkah antisipasi telah dilakukan, antara lain dengan memisahkan antara bebek yang sakit dan bebek yang sehat.
Selain itu, dia juga telah memberi obat sesuai anjuran yang diberikan dokter hewan.
Akan tetapi, kata dia, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena bebek-bebek itu tetap mati.
Menurut dia, serangan penyakit itu juga mengakibatkan penurunan produksi telur.
"Biasanya, saya dalam sehari bisa memasok 150 butir telur bebek ke pedagang, tetapi sekarang hanya 90 butir saja. Saya tidak tahu jenis penyakit apa yang menyerang bebek-bebek itu," katanya.
Informasi yang dihimpun, kasus kematian bebek-bebek itu juga terjadi di Desa Cikembulan, Kecamatan Pekuncen, Banyumas.
Hingga berita ini diturunkan, Dinas Peternakan dan Perikanan (Dinnakkan) Kabupaten Banyumas belum bisa dikonfirmasi terkait kejadian tersebut.
Pewarta : Sumarwoto
Editor : hernawan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kepesertaan JKN 202 penderita penyakit katastropik di Kudus diaktifkan kembali
04 April 2026 5:32 WIB
Penyakit jantung dan kanker masih jadi penyebab kematian tertinggi, gaya hidup disebut faktor utama
02 February 2026 16:03 WIB
FK UMS gelar diskusi penyakit kusta ajak masyarakat ubah stigma menuju empati
27 January 2026 9:50 WIB
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
FKG UMS perkenalkan aplikasi "GigiMu" sebagai inovasi edukasi kesehatan gigi anak
04 May 2026 8:11 WIB