Logo Header Antaranews Jateng

Gubernur Minta Konsep Tegas Penanganan Rob Semarang

Selasa, 15 April 2014 20:12 WIB
Image Print

"Masak sejak 1980-an kita tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini terus-menerus? Maka, harapan saya tahun ini para tenaga ahli bisa menyampaikan kepada kita, konsep mana yang visibel untuk dipilih," katanya di Semarang, Selasa.

Hal tersebut disampaikan Ganjar usai menghadiri acara penandatanganan kontrak pekerjaan APBD dan APBN 2014 di lingkungan Dinas Pengelola Sumber Daya Air Provinsi Jateng.

Ganjar menjelaskan bahwa saat ini ada dua konsep yang sedang dikaji oleh Pemprov Jateng dan tenaga ahli untuk mengatasi rob di Ibu Kota Provinsi Jateng, yaitu konsep tembok raksasa di laut (giant sea wall) dan konsep sabuk pantai.

"Konsep sabuk pantai relatif ramah lingkungan. Namun, kendalanya adalah dana dari APBD Jateng untuk studi permulaan, sedangkan pada konsep 'giant sea wall' kita hemat karena negara tidak keluar apa-apa," ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Menurut dia, dampak dari "rob" yang melanda Kota Semarang, khususnya Kecamatan Semarang Utara, itu luar biasa, di antaranya permukaan tanah yang terus mengalami penurunan, perumahan yang "ambles", dan biaya yang tinggi untuk meninggikan rumah.

"Harapan saya, tahun ini sudah bisa ditentukan konsep untuk mengatasi rob agar tahun depan sudah bisa dimulai pengerjaannya," katanya.

Sebelumnya, anggota Komisi C DPRD Jateng Alfsadun menolak konsep "giant sea wall" karena membutuhkan anggaran yang tinggi, yakni Rp5 triliun.

"Jangka waktu pemakaian tembok raksasa itu tidak bisa lama, paling hanya 10--25 tahun," kata politikus Partai Persatuan Pembangunan itu.

Menurut dia, pembangunan "giant sea wall" yang direncanakan akan menggunakan anggaran "multiyears" itu membutuhkan konsistensi dari kepala daerah yang wilayahnya terkena proyek jangka panjang tersebut.

"Kalau ada pergantian kepala daerah, kepala daerah yang baru belum tentu akan sepakat menindaklanjuti proyek 'giant sea wall'," ujarnya.



Pewarta:
Editor: Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026