Logo Header Antaranews Jateng

Karnaval Dugderan Mulai Kehilangan Substansi

Selasa, 9 Juli 2013 11:55 WIB
Image Print
KARNAVAL DUGDERAN. Warga menyaksikan iring-iringan kendaraan peserta Karnaval Dugderan yang membawa maskot karnaval berupa patung hewan imajiner Warak Ngendok, di Semarang, Jateng. Karnaval Dugderan merupakan tradisi khas warga Kota Semarang yang dig

"Hilangnya substansi itu, terutama pada warak (maskot karnaval budaya Dugderan, red.) sebagai presentasi karakter atau identitas orang Semarang," katanya di Semarang, Selasa.

Ia menjelaskan bahwa identitas dalam warak itu diwujudkan dengan sudut-sudut yang lurus 90 derajat yang menandakan masyarakat Semarang yang egaliter, terbuka, dan tidak banyak basa-basi.

"Akan tetapi, sekarang kepala warak sudah dimodifikasi sedemikian rupa dengan kesenian lain yang sudutnya tidak tegas atau 'bliyat-bliyut'," ujarnya.

Menurut dia, hal tersebut bertolak belakang dengan sebuah teori bentuk mengikuti fungsi (form follow function).

"Kalau bentuknya sudah berubah, fungsinya akan ikut berubah sehingga bentuk asli warak tidak boleh diubah walaupun secara kreativitas diperbolehkan," katanya.

Terkait dengan hal itu, Djawahir mengharapkan Pemerintah Kota Semarang memberikan masukan kepada para pengrajin atau pembuat agar mengerjakan warak sesuai dengan bentuk aslinya.

Secara umum, Djawahir juga menilai jika saat ini orientasi karnaval Dugderan hanya sebagai peristiwa budaya dan rekonstruksi sejarah saja.

"Dugderan tidak lagi berfungsi sebagai penanda dimulainya puasa bagi umat muslim, tetapi hanya 'dalam rangka' menyambut Ramadan," ujarnya.



Pewarta:
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026