
"Ada Gerakan Gagalkan Program Pemutihan TKI"

"Salah satu indikasinya kemarin (kerusuhan yang terjadi di Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Jeddah, red.). Mereka memprovokasi sampai bakar-bakar supaya programnya batal," katanya, di Cilacap, Selasa.
Jumhur mengatakan hal itu kepada wartawan usai menghadiri pembukaan Jambore Buruh Migran 2013 di Balai Desa Sidaurip, Kecamatan Binangun, Cilacap.
Gerakan ini, kata dia, dilakukan oleh mafia yang menampung dan mempekerjakan TKI ilegal karena khawatir seluruh tenaga kerja yang mereka tampung akan menjadi legal dengan adanya program pemutihan Kerajaan Arab Saudi.
Dengan demikian, lanjut dia, nasib memperdagangkan TKI-TKI yang tidak berdokumen menjadi pupus dan penghasilannya hilang, sehingga ada gerakan yang seolah-olah ingin menggagalkan program pemutihan ini dengan berbagai cara.
Menurut dia, mafia-mafia yang menampung TKI ilegal ini terdapat di kota-kota Arab Saudi yang banyak dikunjungi orang asing seperti Jeddah, Mekkah, dan Madinah.
Dia mengakui di kota-kota tersebut banyak terdapat TKI dan banyak pula yang memiliki dokumen resmi.
"Tapi ada juga iming-iming dari sebagian orang, kita sebut mafia, ketika dia (TKI, red.) menjadi pekerja resmi, gajinya katakanlah 800 real atau Rp2 juta, kemudian ditawari dengan gaji di atas 800 real karena memang 'suplay' dan 'demand'-nya tinggi sekali, sehingga 'pasar' TKI itu menjadi mahal. Beberapa TKI terbujuk, akhirnya mereka bekerja secara tidak prosedural dan ditampung oleh penampungan-penampungan ilegal," katanya.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
