Logo Header Antaranews Jateng

AS Rekrut Warga Libya Jadi Pasukan Komando

Rabu, 7 November 2012 14:10 WIB
Image Print


Setelah gelombang aksi kekerasan anti-Amerika di dunia Arab September yang menewaskan duta besar AS untuk Libya dalam serangan kelompok garis keras Islam, Presiden Barack Obama melakukan tindakan untuk meningkatkan keamanan instalasi-instalasi diplomatik AS di kawasan itu.

Satu tim sekitar 10 warga AS dari kedubes di Tripoli mengunjungi satu pangkalan paramiliter di kota Benghazi 10 hari lalu untuk melakukan wawancara dan mengetahui potensi mereka yang direkrut, kata komandan milisi Fathi al-Obeidi.

"Tim Amerika meminta izin kepada kami mengunjungi pangkalan kami dan kami mengizinkan mereka bergerak dengan bebas," katanya kepada Reuters.

"Mereka berbicara dengan banyak orang untuk mencari informasi. Para pejabat AS itu menanyakan tentang usia mereka, latar belakang, dukungan suku mereka. Para pejabat itu ingin mengetahui tentang latihan yang akan mereka terima," ujarnya.

Pentagon menolak memberikan komentar mengenai kunjungan satu delegasi AS ke Benghazi. Pada saat itu delegasi tersebut mengakui tentang perlunya membangun pasukan operasi khusus Libya.

"Tetapi satu keputusan akhir mengenai program itu belum dibuat, dan banyak rincian, seperti jumlah, komposisi dan misi pasukan itu masih belum ditetapkan," kata juru bicara Pentagon Letkol James Gregory.

Obeidi adalah komandan Perlindungan Libya, dan kelompok induk dari berbagai milisi bersenjata yang menolak bergabung dengan tentara resmi setelah perang yang menggulingkan Gaddafi tahun lalu, mengatakan pihaknya masih diserang para pendukung Gaddafi.

Ia juga membantu satu tim marinir AS September dalam usaha pertolongan yang telah menyelamatkan satu kelompok warga AS yang bersembunyi di sebuah rumah setelah serangan terhadap konsulat AS di Benghazi yang menewaskan Dubes AS Christopher Stevens.

Obeidi mengatakan tim pejabat AS termasuk Kuasa Usaha Laurence Pope dan kepala calon pelatih tim pasuan khusus Libya.

"Saya diminta membantu menyediakan sekitar 400 pemuda berusia antara 19 dan 25 tahun untuk dilatih untuk pasukan ini," katanya. "Mereka bisa dilatih di Libya atau di luar negri."

Pasukan itu akan digunakan untuk memerangi kelompok garis keras seperti mereka yang dituduh terlibat dalam serangan terhadap konsulat AS 11 September.

Gregory mengatakan para pejabat AS dan Libya akan bekerja sama dengan Libya "untuk menaksir kebutuhan mereka dan membangun opsi-opsi tentang apa yang AS dapat dukung melalui periode transisi ini."

Obama bertindak setelah aksi kekerasan September untuk meningkatkan perlindungan terhadap instalasi-instalasi diplomatik AS di Dunia Arab, mengirim kontingen-kontingen militer ke beberapa kedubes dan mengurungi untuk sementaa jumlah personil AS di beberapa pos.

Serangan terhadap konsulat itu menjadi satu masalah politik penting dalam kampanye pemilihan presiden AS, dengan penantang dari partai Republik Mitt Romney menuduh Obama memerlukan waktu berminggu-minggu untuk mengetahui bahwa insiden itu adalah satu serangan "teroris", bukan aksis kekerasan yang dipicu kemarahan atas satu film anti-Islam.

(H-RN0)



Pewarta:
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026