Logo Header Antaranews Jateng

Korban Banjir Lahar Merapi Tolak Hunian Tetap

Jumat, 21 September 2012 16:32 WIB
Image Print
Hunian tetap korban merapi (Foto ANTARA)

Unjuk rasa yang diikuti ratusan warga tersebut diawali dari huntara di Lapangan Jumoyo, Kecamatan Salam. Mereka berjalan kaki dengan membawa sejumlah poster menuju Dusun Gempol yang telah porak-poranda diterjang banjir lahar pada awal 2011.

Beberapa poster berupa kecaman dan kekecewaan terhadap Pemerintah Kabupaten Magelang dan sikap Kepala Desa Jumoyo dibentangkan oleh kaum perempuan.

Poster tersebut antara lain bertuliskan "Warga tidak mau di relokasi. Stop..? Pokoke bali Gempol", "Pak Lurah ngungsi, ra pateken", dan "BNPB usut penggelembungan data penerima huntap Jumoyo", "Jangan dianaktirikan yang tidak daftar huntap".

Mereka mengaku kecewa terhadap sikap Pemkab Magelang yang dinilai tidak transparan selama proses relokasi.

"Kami tidak terima huntap dan relokasi. Kami menduga rencana pemkab merelokasi ke hunian tetap di lapangan Desa Larangan, Salam ada rencana lain yang ditutupi," kata seorang warga Suwarto (44).

Berdasarkan kabar yang beredar, katanya, rencana relokasi tersebut berhubungan dengan rencana Pemkab Magelang akan membangun terminal peti kemas di lahan bekas rumah warga Gempol tersebut.

Warga Gempol yang sekarang tinggal di huntara, 64 keluarga menyatakan mau menempati hunian tetap, sedangkan 106 keluarga menolak relokasi ke huntap dan mereka memilih untuk membangun kembali rumahnya di Dusun Gempol.

Kadus Gempol, Sugianto, mengatakan, apabila mengikuti program huntap, warga khawatir atas hak kepemilikan tanah dan rumah yang terkena banjir lahar. Warga meminta harus ada jaminan kalau memang tanah miliknya tidak dipindahtangankan.

"Tidak hanya secara lisan, namun kepastian secara tertulis," katanya.

Ia mengatakan, alasan lain penolakan terhadap relokasi itu ke hunian tetap, warga berpendapat bahwa aliran Kali Putih sudah dilebarkan sehingga arus banjir lahar tidak akan mengancam permukiman lagi.



Pewarta:
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026