
Terbakar, Pedagang Bangun Pasar Darurat

Mereka difasilitasi relawan dari Komunikasi Peduli Aktivitas Gunung (Kompag) Merapi dengan menempati lahan di sekitar Pasar Talun milik Slamet, Jumat Susilo, dan Mujiono.
"Kami hanya memfasilitasi keinginan para pedagang untuk membangun lapak-lapak di tempat tersebut," kata Koordinator Kompag Merapi, Bejo SP.
Ia mengatakan, atas dasar kemanusiaan tiga pemilik lahan tidak keberatan tanahnya digunakan sebagai tempat berjualan para pedagang korban kebakaran.
Bejo menuturkan, akan membangun sekitar 200 lapak dengan ukuran 1,5 x 2 meter. Saat ini, sebanyak 118 pedagang telah mendaftar.
"Untuk membangun lapak, setiap pedagang akan kami kenakan biaya Rp500 ribu. Pada tahap pertama, pedagang harus membayar separoh dulu. Sedang sisanya, setelah lapak dapat ditempati," katanya.
Ia mengatakan, untuk membangun 200 lapak membutuhkan biaya sekitar Rp50 juta. Dana tersebut menjadi kendala pihaknya.
Pengaplingan lapak sudah dilakukan. Sejumlah relawan dari Kompag Merapi mencari bahan baku untuk pembuatan lapak tersebut, antara lain bambu dan terpal.
"Kami mau berjualan di tempat ini, atas keinginan bersama. Tidak ada paksaan dari siapa pun. Kebetulan, lokasinya dekat dengan pasar yang terbakar dan cukup strategis karena dekat jalan raya," kata pedagang pakaian, Istikanah.
Meskipun barang dagangannya sudah habis terbakar, dia tetap akan berjualan di lokasi tersebut.
"Ini satu-satunya mata pencaharian kami. Meskipun di tempat darurat tidak masalah, yang penting kami dapat tempat untuk berusaha lagi. Kalau menunggu pasar darurat yang dibangun pemerintah, terlalu lama," katanya.
Kepala Dinas Perdagangan dan Pasar (Disdagsar) Kabupaten Magelang Bambang Dwi Purnomo sebelumnya mengatakan pemeirntah daerah sudah menyosialisasikan tiga lokasi untuk pasar darurat, yakni di Lapangan Banyubiru, belakang pasar yang terbakar, dan belakang balai Desa Dukun.
Pewarta: Heru Suyitno
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
