
Wali Kota Semarang sahur bareng Sinta Nuriyah di Pura Giri Natha

Semarang (ANTARA) - Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengikuti kegiatan sahur bareng dengan tokoh nasional Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid yang digelar di Pura Agung Girinatha, Semarang, Selasa.
Momentum sahur Ramadan yang berlangsung di rumah ibadah umat Hindu tersebut menjadi simbol bahwa keberagaman di Kota Semarang dirawat dalam praktik.
"Harmoni ini tidak hadir dengan sendirinya, harmoni ini dibangun dari kesediaan untuk saling memahami, keberanian untuk saling menerima, dan komitmen bersama untuk menempatkan kemanusiaan di atas segala perbedaan," kata Agustina.
Menurut dia, kegiatan sahur bareng itu merupakan wujud komitmen Pemerintah Kota untuk senantiasa menjaga harmoni sosial dan memperluas inklusivitas.
Ia menyampaikan bahwa capaian Kota Semarang yang berada di tiga besar nasional Indeks Kota Toleran menjadi indikator bahwa ruang aman bagi seluruh warga terus dijaga.
Toleransi bagi Kota Semarang, kata dia, berarti memastikan setiap warga merasa aman menjalankan ibadahnya.
"Bagi kami, toleransi adalah bagaimana setiap warga merasa aman menjalankan ibadahnya, bagaimana perbedaan hadir tanpa rasa curiga, dan bagaimana kita saling menyapa sebagai sesama manusia dengan hormat dan hangat," katanya.
Selain memperkuat komitmen lintas iman, Pemkot Semarang juga memperluas makna inklusivitas melalui pembangunan Rumah Inspirasi Disabilitas.
Dari 16 kecamatan di Kota Semarang, sebanyak tujuh rumah inspirasi telah beroperasi menjadi ruang bertemu, bermain, dan memperoleh akses yang setara bagi penyandang disabilitas.
"Setiap kecamatan akan mendapatkan akses dan ruang untuk bermain, bertemu, dan diperlakukan setara dengan seluruh warga Kota Semarang," katanya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang kota yang inklusif, agar seluruh warga, termasuk kelompok difabel, dapat terlibat aktif dalam kehidupan sosial.
Dalam kesempatan yang sama, Sinta Nuriyah menyampaikan bahwa kegiatan sahur lintas komunitas yang ia jalankan merupakan bagian dari upaya merawat persaudaraan di tengah kemajemukan bangsa.
"Indonesia itu adalah rakyat yang majemuk. Puasa itu mengajarkan akhlak dan budi pekerti yang luhur," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi menjadi sarana untuk saling mengenal.
"Lita’arafu, untuk saling mengenal, saling menghormati, saling menghargai, bukan untuk saling bertengkar," katanya, mengutip pesan yang kerap disampaikannya dalam berbagai kesempatan sahur lintas komunitas.
Menurut dia, nilai-nilai seperti jujur, adil, sabar, ikhlas, dan saling menghormati menjadi fondasi agar masyarakat dapat hidup berdampingan dalam damai.
Kegiatan sahur tersebut dihadiri unsur forkopimda, tokoh lintas agama, serta berbagai komunitas disabilitas. Suasana yang terbangun menunjukkan bahwa kebersamaan di Kota Semarang berjalan dalam ruang yang inklusif dan terbuka bagi semua.
Melalui momentum tersebut, Pemkot Semarang menegaskan bahwa toleransi dan inklusivitas menjadi bagian dari arah pembangunan Kota Semarang sebagai rumah bersama.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
