Logo Header Antaranews Jateng

BPBD Semarang catat 53 keiadian pohon tumbang akibat hujan deras dan angin kencang

Rabu, 18 Februari 2026 22:51 WIB
Image Print
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Endro P Martanto. (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Semarang (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat 53 kejadian pohon tumbang akibat hujan deras dan angin kencang yang melanda wilayah setempat, Rabu.

Kepala BPBD Kota Semarang Endro P Martanto, di Semarang, Rabu, menyebutkan pihaknya mencatat 87 kejadian bencana tersebar di hampir di seluruh penjuru kota, dan 53 di antaranya merupakan kejadian pohon tumbang.

"Hujan lebat dengan intensitas tinggi dan angin kencang mengakibatkan beberapa area terdampak tanah longsor, atap roboh, dan pohon tumbang," katanya.

Bahkan, kejadian pohon tumbang mengakibatkan satu korban jiwa, yakni terjadi di Jalan Bendungan Raya No. 1.078 C, Barusari, Kecamatan Semarang Selatan, menimpa empat orang yang sedang melintas.

"Di lokasi tersebut, pohon menimpa empat korban. Kondisinya satu orang tidak sadar, satu luka-luka, satu anak kecil, serta satu ibu meninggal dunia," katanya.

Korban meninggal dunia diketahui bernama Wulan Dewi Ramadhan, seorang ibu rumah tangga asal Dukuh Rejosari, Ngijo, Gunungpati.

Menurut dia, peristiwa itu menambah duka di tengah cuaca ekstrem yang melanda Kota Semarang.

Selain pohon tumbang, BPBD juga mencatat 31 kejadian atap rumah roboh, termasuk kerusakan pada reklame dan dinding bangunan.

Kemudian, tanah longsor yang terjadi di beberapa titik rawan seperti Tinjomoyo, Rowosari, dan Tembalang.

Ia memastikan tim BPBD bergerak cepat melakukan pendataan dan penanganan darurat di lapangan.

Petugas memasang terpal pada area terdampak longsor dan bangunan yang rusak untuk mencegah kerusakan lanjutan.

"Kami sudah melakukan pendataan dan pemasangan terpal di beberapa titik tanah longsor dan puting beliung. Beberapa wilayah juga sempat tergenang, namun air mulai berangsur surut," katanya.

Dalam beberapa hari terakhir, kata dia, Kota Semarang memang menghadapi ancaman cuaca ekstrem berupa banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

Berdasarkan perkiraan, kata dia, potensi bencana hidrometeorologi masih akan berlangsung hingga akhir Februari 2026.

Ia mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras dan terjadi angin kencang.

Endro meminta masyarakat menghindari berteduh di bawah pohon besar, papan reklame, atau bangunan yang rapuh, serta segera melapor jika menemukan potensi bahaya di lingkungan sekitar.



Baca juga: Terdampak tanggul jebol, polisi rekayasa jalur Semarang-Grobogan yang putus



Pewarta:
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026