Logo Header Antaranews Jateng

Bupati Temanggung: Kader NU siap menjadi garda terdepan jaga persatuan

Sabtu, 31 Januari 2026 14:37 WIB
Image Print
Bupati Temanggung Agus Setyawan menyampaikan sambutan pada Apel dan Parade  10.000 kader dalam rangka Harlah Nahdlatul Ulama 100 Tahun Masehi di Alun-Alun Temanggung, Sabtu (31/1/2026) ANTARA/Heru Suyitno

Temanggung (ANTARA) - Bupati Temanggung Agus Setyawan menyampaikan kader Nahdlatul Ulama (NU) siap jadi garda terdepan menjaga persatuan, merawat toleransi dan menolak segala bentuk radikalisme, ekstremisme, serta ujaran kebencian yang dapat merusak keutuhan bangsa.

Ia di Temanggung, Sabtu, mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Temanggung menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada NU atas peran strategis dalam menjaga suasana daerah yang kondusif, membina umat, serta menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan.

Ia menyampaikan hal tersebut pada sambutan Apel dan Parade 10.000 kader dalam rangka Harlah Nahdlatul Ulama 100 Tahun Masehi.

"Saya mengajak seluruh kader NU di Kabupaten Temanggung untuk terus menguatkan sinergi dengan pemerintah daerah, menjaga kerukunan antara umat beragama, serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara," katanya.

Bupati mengajak semuanya ikut merawat Temanggung sebagai daerah yang aman, damai, religius, dan berkemajuan, dengan spirit Islam wasathiyah yang menyejukkan dan mempersatukan.

Menurut dia, satu abad perjalanan NU adalah bukti nyata bahwa NU konsisten menjaga agama sekaligus merawat kebangsaan. NU tidak hanya berdakwah di mimbar, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, membangun pendidikan, sosial, ekonomi, dan menjaga persatuan bangsa.

Di usia 100 tahun ini, katanya NU telah meneguhkan dirinya sebagai pilar utama Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam yang menebar kedamaian, toleransi, dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.

"Pada kesempatan ini, saya ingin menegaskan kembali pesan penting NU, yaitu Islam jalan tengah (wasathiyah)," katanya.

Ia menyampaikan Islam wasathiyah adalah Islam yang tidak ekstrem ke kanan maupun ke kiri, Islam yang adil, seimbang, moderat, dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan.

"Islam wasathiyah mengajarkan kita untuk tegas dalam prinsip, namun lembut dalam cara, kuat dalam akidah, namun terbuka dalam pergaulan sosial. Inilah wajah Islam yang sejak lama diajarkan para kiai NU dan menjadi fondasi kokoh kehidupan berbangsa di Indonesia," katanya.



Baca juga: Ulama dari Mesir hadiri Konfercab IPNU Kendal ke-XXIII di Ponpes Darul Amanah



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026