
Kantor Kemenag Pati meluncurkan gerakan wakaf uang entaskan kemiskinan

Pati (ANTARA) - Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati, Jawa Tengah, meluncurkan program gerakan investasi wakaf uang (Giwang) sebagai salah satu upaya mengajak masyarakat untuk bersama-sama membantu menurunkan angka kemiskinan di Kabupaten Pati yang masih tinggi.
"Lahirnya Giwang ini karena kepedulian terhadap angka kemiskinan di Kabupaten Pati yang masih berada di kisaran 9,8 persen atau sekitar 105 ribu jiwa," kata Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati Ahmad Syaikhu di sela-sela acara penandatanganan kerja sama sekaligus launching Gerakan Investasi Wakaf Uang (Giwang) yang digagas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati di Aula Lantai 2 Kantor Kemenag Pati, Jumat.
Selain itu, kata dia, potensi wakaf di lingkungan Kementerian Agama cukup besar. Dari sekitar 921 pegawai, puluhan ribu siswa madrasah, guru, hingga pondok pesantren, potensi wakaf uang diperkirakan dapat mencapai miliaran rupiah per tahun.
Menurut dia upaya pengentasan kemiskinan itu tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama, termasuk masyarakat dan sektor swasta. Sedangkan wakaf uang dipilih karena bersifat inklusif dan berkelanjutan.
"Wakaf itu tidak perlu menunggu kaya, tidak harus punya tanah luas. Wakaf uang bisa seribu atau dua ribu saja. Wakaf ini adalah investasi akhirat yang tidak terputus," ujar Syaikhu.
Selain itu, kata dia, wakaf uang juga merupakan wujud syukur kepada Allah SWT sekaligus sarana menolak bala melalui sedekah yang terus-menerus.
Pelaksana tugas Bupati Pati Risma Ardhi Chandra yang juga hadir menyebut Kementerian Agama Kabupaten Pati sebagai pelopor nasional dalam penerapan sistem wakaf uang karena yang pertama kali di Indonesia menerapkan sistem wakaf uang.
"Ini motivasi yang luar biasa, dan Insya Allah ke depan kami di jajaran Pemerintah Kabupaten Pati juga bisa melaksanakan hal yang sama," ujarnya.
Ia juga mengaitkan peluncuran Giwang dengan kondisi Kabupaten Pati yang masih menghadapi bencana banjir sejak awal Januari.
"Kondisi Pati memang sedang berduka dengan adanya bencana banjir yang mulai dari 9 Januari sampai sekarang masih belum surut. Tanggap bencana akhirnya kita perpanjang sampai tanggal 6 Februari 2026. Mohon dukungan semuanya untuk membantu korban banjir," katanya.
Chandra menilai wakaf uang menjadi solusi konkret yang membongkar persepsi lama tentang wakaf yang identik dengan tanah luas dan harta besar.
"Ternyata wakaf ini metodenya uang Rp 1.000,- atau Rp 2.000,- juga sudah termasuk wakaf. Slogannya 'DRS BEJO' (dua ribu saja sebelum kerjo). Ini inisiasi yang luar biasa," ungkapnya.
Ia menegaskan Pemkab Pati siap mendukung dan mendorong gerakan wakaf hingga ke kantor-kantor dinas dan sekolah sebagai sarana edukasi kepedulian sosial bagi generasi Z dan alpha.
Dana wakaf yang terkumpul juga dikelola secara profesional melalui kerja sama dengan Bank Muamalat dan Baitulmaal Muamalat, serta disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan berdasarkan data dari Dinas Sosial. Gerakan ini, diharapkan wakaf uang dapat menjadi kekuatan baru dalam membangun kepedulian sosial dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Baca juga: Ratusan pelajar ikuti SI SEMAR 2026 Ikatan Mahasiswa Pati Unnes
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
