Solo (ANTARA) - Pemerintah memberikan edukasi kepada pekerja migran agar pintar mengelola keuangan sehingga tidak mudah terjerumus oleh investasi bodong.
Direktur Literasi Keuangan dan Pemanfaatan Remitansi Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Indra Hardiansyah di sela edukasi keuangan pekerja migran Indonesia dan keluarganya di Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, Selasa mengatakan sampai dengan saat ini masih banyak pekerja migran yang bertahun-tahun bekerja di luar negeri, namun kembali ke tanah air tanpa tabungan yang cukup untuk masa depan.
Dia menyebut penyebab permasalahan tersebut karena masih banyak yang terjebak gaya hidup konsumtif, terjerat pinjaman yang tidak terkendali, dan investasi bodong.
Akibatnya, pendapatan mereka habis setelah masa kontrak kerja di luar negeri juga selesai.
Berdasarkan data Bank Indonesia pada 2024, pihaknya mencatat jumlah remitansi PMI secara nasional sebesar Rp253,9 triliun. Dari total tersebut, Provinsi Jateng mencatat ada sebanyak Rp56,5 triliun.
Ia mengatakan angka ini bukan hanya membantu perekonomian keluarga tetapi juga berkontribusi terhadap pengentasan kemiskinan, penggerak ekonomi lokal, dan menunjang perekonomian nasional dengan menjadi sumber devisa terbesar kedua setelah migas.
Meski demikian, dikatakannya, data dari BI menunjukkan 70 persen dari remitansi yang dikirimkan masih digunakan untuk konsumsi sehari-hari dan membayar utang. Menurut Indra, kurang dari 5 persen remitansi yang digunakan untuk investasi dan modal usaha.
“Hanya kurang dari 5 persen yang dialokasikan untuk investasi dan modal usaha,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris 1 Desk Koordinasi Peningkatan Penerimaan Devisa Negara sekaligus Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Sarjono Turin mengatakan edukasi keuangan dan masalah hukum penting diberikan kepada calon PMI.
Menurut dia, PMI memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia karena mereka menghasilkan devisa signifikan melalui remitensi yang dikirimkan kepada keluarganya di Indonesia.
“Buruh migran Indonesia merupakan penyumbang devisa terbesar kedua setelah sektor migas di Indonesia. Devisa yang dihasilkan PMI berasal dari remitensi uang yang dikirimkan kepada keluarganya di Indonesia,” katanya.

