Semarang (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Tengah mendorong para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) agar melek digital untuk memaksimalkan potensi ekonomi, sekaligus meminimalkan risiko penipuan.
"Penggunaan 'digital transaction' itu sudah meluas ya," kata Kepala OJK Jateng Hidayat Prabowo saat pelaksanaan "Digital Financial Innovation Day 2025" di Semarang, Selasa.
Ia mencontohkan saat ajang Solo Raya Great Sale itu, dari Rp10 triliun nilai transaksi, sebesar Rp3,5 triliun di antaranya atau 35 persen adalah transaksi digital menggunakan QRIS.
Menurut dia, perkembangan teknologi harus berjalan seiring dengan peningkatan literasi digital keuangan, seiring maraknya kasus penipuan melalui transaksi digital.
"Jadi, tugas kami adalah edukasi untuk meningkatkan literasi keuangan, dan sejalan dengan peningkatan literasi digital," katanya.
Ia mengatakan OJK terus menjalankan perlindungan konsumen dengan memperkuat kanal pengaduan seperti Indonesia Anti Scam Centre (IASC) untuk menindaklanjuti kasus penipuan digital secara cepat.
Bahkan, katanya, mereka juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak dan menjadikan konsumen sebagai subjek edukasi.
"Setelah mereka kami edukasi, kami juga minta mereka, lengkapi kemampuannya untuk menularkan kepada yang lain. Kepada lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lain-lain," kata Hidayat.
Sekretaris Daerah Jateng Sumarno mengatakan digitalisasi keuangan bagi sektor UMKM sangat penting dan saat ini sudah tidak bisa dihindari lagi.
Menurut dia, sistem berbasis digital mencatat setiap transaksi keuangan secara permanen sehingga meminimalkan peluang penyalahgunaan atau kesalahan.
Ia mengatakan masyarakat sudah banyak yang beralih menggunakan QRIS sebagai alat pembayaran nontunai sehingga pelaku UMKM juga harus bisa mengikuti tren itu.
Di sisi lain, katanya, pelaku UMKM juga harus dibekali dengan literasi digital keuangan agar terhindar dari penipuan.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK Hasan Fawzi mengatakan kegiatan itu menandai dua tahun perjalanan pengaturan dan pengawasan inovasi teknologi sektor keuangan, aset digital, dan aset kripto.
Bersamaan dengan itu juga diluncurkan pedoman keamanan siber untuk industri aset digital nasional serta aplikasi pendukung ekosistem peternak sapi perah melalui kerja sama dengan Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang didukung Pemerintah Swiss.
Hingga Juli 2025, kemitraan penyelenggara pemeringkat kredit alternatif dan agregasi jasa keuangan telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 1.000 lembaga jasa keuangan, menghasilkan nilai kemitraan tak kurang dari Rp2,25 triliun per bulan.
"Ini memberikan akses inklusif bagi konsumen sekaligus peluang peningkatan pendapatan bagi industri jasa keuangan," kata Fawzi.
Baca juga: Polisi ungkap 163 kasus narkoba di Januari hingga Agustus di Semarang

