Boyolali (ANTARA) - Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah membangun Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia yang berlokasi di Kompleks Masjid Ash-Shirathalmustaqim Dukuh Manggung, Desa Pagerjurang, Kecamatan Musuk.
Peletakan batu pertama Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia pertama di Jawa Tengah tersebut dilakukan oleh Wakil Bupati Boyolali Dwi Fajar Nirwana, Biro Kesejahteraan Rakyat Provinsi Jawa Tengah Gunawan Sudharsono, dan Camat Musuk beserta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Musuk, Senin malam.
Terkait hal itu, Ketua Umum Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia Yogi Matsuni sangat bersyukur dengan akan dibangunnya Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia di Boyolali ini. Menurut dia, masyarakat belum banyak tahu informasi tentang tunanetra dan bagaimana cara mendampingi dan berkomunikasi dengan tunanetra.
Ia mengatakan masyarakat sebenarnya peduli dengan para tunanetra sehingga perlu membangun inklusi atau kebersamaan. Pemerintah juga harus mendukung bahwa inklusi bukanlah tambahan namun inklusi adalah sebuah kebutuhan.
“Tunanetra insyaallah bisa membangun, baik itu perkampungan, kecamatan, kabupaten, dan seluruhnya dengan kemampuan mereka,” katanya.
Sementara itu, Setiyono selaku Pencetus dan Pimpinan Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia mengatakan tujuan dibangunnya tempat ini adalah untuk menampung aspirasi para tunanetra di wilayah Boyolali pada khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya.
Selain itu, Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia ini juga akan dijadikan tempat belajar Al Qur’an karena baru 20 persen tunanetra di Indonesia yang bisa membaca Al Qur’an.
“Dengan berdirinya Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia ini kami berharap saudara-saudara kami yang ada di wilayah Boyolali, Soloraya dan Jawa Tengah bisa untuk datang di rumah aspirasi ini untuk bisa belajar Al Qur’an dengan braile,” katanya.
Wabup Fajar yang turut meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Aspirasi Tunanetra Indonesia menyatakan rasa bangganya dan terharu atas pembangunan tempat tersebut.
“Semoga Rumah Aspirasi Tunanetra ini bisa memberikan manfaat, jadi ruang untuk menyampaikan aspirasi, mengembangkan potensi dan tentunya mencarikan solusi untuk permasalahan tunanetra yang ada di wilayah Kabupaten Boyolali,” katanya.
Pada kesempatan itu, acara juga diisi oleh Hadrah Ngaji Budaya Sambang Sambung Leluhur oleh Mbah Mimin pengasuh Nyai Kawung Boyolali dan Pengajian Kebangsaan Cinta Agama dan Tanah Air, Mahalul Qiyam, serta ditutup Doa Majelis oleh Kyai Haji Yusuf Chudlori Pengasuh PP API Tegalrejo Magelang.

