Saat menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Bakteri Tanah Pasir Besi untuk Agensia Biofertilizer dan Bioremediasi Limbah Tercemar Logam Berat", Prof. Oedjijono mengatakan mekanisme isolat bakteri dalam menoleransi dan mereduksi logam berat disebabkan oleh kemampuannya dalam mengakumulasi ion logam baik di dalam sel (absorpsi) maupun di luar sel (adsorpsi).
Menurut dia, mekanisme tersebut di antaranya melalui proses produksi eksopolisakarid, kelasi, presipitasi, pertukaran ion, bioleaching, enzyme-catalysed transformation, dan pompa efflux.
Berdasarkan kajian, kata dia, beberapa genera bakteri asal tanah pasir besi memiliki potensi untuk pemulihan ekosistem yang tercemar logam berat, karena memiliki kemampuan merubah ketersediaan logam di lingkungan menjadi mudah diserap maupun menjadi tidak toksik dan tidak reaktif.
"Berdasarkan studi yang sudah dilakukan, beberapa genera bakteri asal tanah pasir besi berpotensi baik sebagai agensia biofertilizer (pupuk hayati) maupun agensia bioremediasi lingkungan tercemar logam berat," jelasnya.
Selanjutnya, Prof. Dwi Sunu Widyartini memaparkan orasi ilmiah berjudul "Potensi Alga Cokelat Sargassum Dalam Industri Batik yang Ramah Lingkungan".
Menurut dia, rumput laut Sargassum memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai bahan penghasil alginat. Meskipun tumbuh melimpah dan banyak keanekaragaman spesiesnya, dia mengatakan keberadaannya melimpah hanya pada musim tertentu, perlu budi daya yang intensif sehingga berkelanjutan.
"Alginat yang terkandung dalam Sargassum berperan penting dalam berbagai industri, termasuk dalam pencapan batik. Penelitian lanjutan diperlukan untuk pengujian mutu kain batik dan pewarnaan yang tepat, tidak luntur, tetapi tetap ramah lingkungan dan berkelanjutan," katanya.
Baca juga: Mahasiswa FISIP Unsoed jadi Duta Pemuda Provinsi Jawa Tengah
Sementara Prof. Poppy Arsil menyampaikan orasi ilmiah judul "Enhancing Quality of Life: The Benefits of Halal and Locally Sourced Foods" yang menjelaskan tentang atribut pangan lokal di antaranya murah, kualitas baik sehat dan unik, serta mendukung petani dan ekositem lokal.
Menurut dia, kualitas produk meliputi nilai gizi, lebih sehat, natural, dan segar menjadi pertimbangan utama konsumer dalam membeli pangan lokal.
"Kebanggaan pada pangan lokal (ethnocentrims) juga menjadi indikator preferensi pangan lokal di pasar modern. Selain itu kemudahan dalam proses dan pengolahan pangan merupakan pertimbangan penting bagi konsumer karena gaya hidup yang lebih simpel dengan karakteristik pendapatan dan pendidikan yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Dia mengatakan sistem pangan lokal memiliki efek berganda terhadap nilai sosial dan ekonomi antara petani sebagai produser dan konsumen sebagai pengguna.
Bagi konsumen, kata dia, membeli pangan lokal berarti memperkuat ekonomi lokal dan hal itu menunjukkan bahwa pangan lokal mampu memberikan efek positif terhadap perekonomian lokal.