Relaksasi di tengah wabah yang tak mereda

id tajuk juli, wabah covid 19, dilema

Relaksasi di tengah wabah yang tak mereda

Pelaku UMKM yang memproduksi kerajinan dari bahan bekas mengikuti gebyar UMKM di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Bumiharjo Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. ANTARA/Heru Suyitno

Semarang (ANTARA) - Kegiatan ekonomi, sosial, hingga aktivitas keagamaan dalam dua pekan terakhir ini makin menggeliat. Jalan-jalan di kota maupun di daerah jauh lebih ramai dibandingkan sebelumnya. Sebagian besar perkantoran pemerintah dan swasta juga jauh lebih sibuk. Begitu pula tempat-tempat ibadah. Hanya lembaga pendidikan yang sampai saat ini -- sebagian besar -- belum memberlakukan kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka.

Dari sisi ekonomi, menggeliatnya aktivitas tersebut memang menggembirakan karena menjanjikan roda perekonomian yang bakal berputar lebih kencang.

Hal ini berarti bakal memberi tetesan kesejahteraan lebih banyak bagi warga, yang hampir 4 bulan harus membatasi secara ketat kegiatannya di luar rumah. Pembatasan ini menyebabkan pendapatan mereka anjlok, bahkan tidak sedikit yang kehilangan penghasilan karena di-PHK.

Namun, di sisi lain, ancaman penularan COVID-19 sama sekali tidak menunjukkan tanda mereda. Dibukanya perkantoran justru dibarengi dengan munculnya kasus-kasus positif di tempat kerja.Tempat kerja malah menjadi klaster-klaster baru penularan.

Secara nasional, kasus positif COVID-19 dalam sepekan terakhir ini selalu di atas 1.500. Bahkan catatan per 26 Juli 2020, jumlahnya kasus positifnya mendekati 100.000 kasus, tepatnya 98.778 kasus. Bila rata-rata penambahan kasus harian tidak berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, kasus positif yang akan diumumkan hari Senin (27/7) ini bakal melampaui 100.000. Tidak ada yang bisa meramal secara presisi kapan penyebaran kasus tersebut akan mencapai puncak kemudian melandai.

Dengan jumlah kasus sebanyak itu -- dan kemungkinan terus bertambah -- kita mengkhawatirkan rumah sakit dan layanan kesehatan lainnya akan kewalahan menangani pasien COVID-19 yang harus menjalani perawatan. Belum lagi sejumlah dokter dan paramedis yang harus diistirahatkan karena mereka terpapar virus berbahaya tersebut. Sejumlah dokter dan tenaga kerja kesehatan yang gugur akibat terinfeksi COVID-19 saja sudah menjelaskan betapa tinggi risiko yang harus dihadapi mereka.

Jumlah pasien sembuh dari hari ke hari memang bertambah. Minggu (26/7) tercatat 56.655 penyintas COVID-19 berhasil sembuh, namun yang dirawat juga bertambah, menjadi 37.342 orang. Begitu pula pasien yang meninggal, tercatat 4.781 orang. Sementara itu, ketersediaan vaksin dan obat yang cespleng untuk mengatasi COVID-19 masih terlalu lama. Bisa 6 bulan, 1 tahun, bahkan lebih. Sementara itu, ancaman terinfeksi virus berbahaya ini setiap saat mencuat.

Pemerintah, juga warga negara, saat ini memang menghadapi dilema. Akan tetapi, membiarkan perekonomian terpuruk berkepanjangan bukan pilihan tepat. Opsi kembali menerapkan kebijakan ekstrem lockdown, misalnya, jelas bukan pilihan realistis. Kebijakan tersebut kiranya lebih pas diterapkan ketika kasus yang terungkap jauh lebih sedikit, misalnya, pada medio Maret lalu.

Kita sudah berjalan jauh. Sejumlah kebijakan berisi pengendalian aktivitas warga serta pemberian stimulus agar warga menengah ke bawah tetap survive sudah ditempuh pemerintah. Memang masih ada kekurangan di sana sini, namun kita percaya kebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintah juga demi menyelamatkan bangsa ini.

Oleh karena itu, meski terdengar agak basi, yang wajib ditempuh setiap warga dan keluarga di era adaptasi kebiasaan baru adalah menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan benar.

Tidak ada pilihan lain di tengah relaksasi di berbagai sektor kecuali mendorong simpul-simpul perekonomian kembali mengendur kemudian berputar. Kita memang hidup dalam situasi tidak normal karena itu pilihan berisiko harus diambil. Yang penting dalam pengambilan keputusan selalu mempertimbangkan risiko yang terukur.

Bagi pelaku di sektor ekonomi yang berkaitan dengan potensi munculnya kerumunan, misalnya, pariwisata, pertokoan modern, pasar tradisional, terminal, stasiun KA, hingga bandara, harus mampu mengelola risiko dengan penerapan protokol kesehatan sangat ketat agar di titik-titik tersebut tidak menjadi klaster penularan.

Begitu pula perkantoran, harus bisa mengurangi seminimal mungkin pegawai. Bekerja di rumah memang tidak bisa dilakukan oleh semua jenis pekerjaan. Akan tetapi, dalam situasi di bawah ancaman wabah berbahaya ini, pilihannya memang amat sedikit. 

Dan, di antara pilihan yang terbatas tersebut, semuanya mengandung risiko. Agar risiko terkendali, perilaku disiplin dalam segala aspek menjadi keharusan. ***

Baca juga: Adaptasi kebiasaan baru yang presisi di tengah pandemi
Baca juga: Film "Terlalu Tampan" live action hasil adaptasi komik LINE WEBTOON
Baca juga: BBB tayangkan empat film adaptasi karya sastra
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar