Dampak COVID-19, penjualan hewan kurban di Solo lesu

id Penjualan hewan kurban, solo

Dampak COVID-19, penjualan hewan kurban di Solo lesu

Beberapa pedagang tengah menurunkan kambing dari mobil boks. (ANTARA/Aris Wasita)

Saat ini saya baru terima pesanan lokal, itupun baru sedikit.
Solo (ANTARA) - Penjualan hewan kurban salah satunya kambing di Kota Solo masih lesu seiring dengan lesunya kondisi perekonomian akibat pandemi COVID-19.

"Termasuk dari Jakarta sampai saat ini belum ada permintaan. Padahal kalau tahun-tahun sebelumnya satu bulan sebelum Hari Raya Idul Adha pesanan sudah sangat banyak," kata salah satu pedagang Sri Mulyani di Pasar Hewan Semanggi Solo, Senin.

Selain dari Jakarta, dikatakannya, pesanan dari luar kota yang banyak masuk biasanya dari Boyolali, Semarang, Salatiga, dan Yogyakarta. Ia mengatakan biasanya pesanan yang masuk dari satu pemesan saja bisa sekitar 1-3 rit. Untuk satu rit sendiri berisi 100 ekor kambing.

"Saat ini saya baru terima pesanan lokal, itupun baru sedikit. Sejauh ini untuk hari raya kurban baru 100 ekor dari MTA. Biasanya khusus MTA pesanannya bisa sampai 600 ekor kambing," katanya.

Meski demikian, dikatakannya, lesunya permintaan tersebut tidak mempengaruhi kenaikan harga kambing. Ia mengatakan sejauh ini untuk kenaikan harga kambing sekitar Rp100.000-200.000/ekor. Bahkan, dikatakannya, saat mendekati hari raya kurban kenaikannya bisa lebih tinggi lagi.

Baca juga: Pemkot Pekalongan siapkan SE pemotongan hewan kurban

"Kalau sekarang harga kambing yang paling murah Rp1,5 juta/ekor, yang paling mahal sekitar Rp5 juta. Nanti saat mendekati hari raya harganya bisa sampai Rp7 juta/ekor, tergantung dari besar kecilnya kambing," katanya.

Meski permintaan turun, ia juga tetap menyediakan stok hingga ratusan ekor, baik kambing jenis Jawa maupun gembel. Untuk kambing tersebut didatangkannya dari beberapa daerah, di antaranya Ponorogo, Pacitan, dan Wonosari.

Senada, pedagang lain Agus Sutrisno mengatakan kali ini pembelian kambing dari konsumen untuk kurban sangat rendah. Bahkan, ada kalanya dalam satu hari tidak ada satu ekorpun yang terjual.

"Kalau tahun lalu jika mendekati hari raya kurban seperti ini dalam satu hari saya bisa jual sampai 10 ekor. Saat ini saya paling banyak hanya bisa jual 1-2 ekor/hari. Mudah-mudahan nanti jelang Idul Adha permintaan bertambah," katanya.

Baca juga: Pemkab Purbalingga intensifkan pemeriksaan hewan kurban jelang Iduladha
Baca juga: Perdagangan ternak kurban di Boyolali masih lesu
Pewarta :
Editor: Sumarwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar