Siapa mampu patahkan dominasi Ducati di GP Austria?

id MotoGP Austria,ducati

Siapa mampu patahkan dominasi Ducati di GP Austria?

Pebalap Ducati Andrea Dovizioso menjalani sesi latihan bebas GP Republik Ceko, Sirkuit Brno. (3/8/2019) Reuters/David W Cerny

Jakarta (ANTARA) - Setelah Republik Ceko, MotoGP langsung menuju Red Bull Ring, Austria, pekan ini dan hanya ada satu motor juara di trek tersebut sejak kembali ke kalender balapan pada 2016 - Ducati.

Marc Marquez (Repsol Honda) menjaga jaraknya 63 poin dari pebalap Ducati Andrea Dovizioso di klasemen. Namun jika duel klasik kembali terulang di Austria, bukan tak mungkin Dovi atau siapa pun pebalap Ducati yang turun bisa meredam laju the Baby Alien di trek sepanjang 4,3km itu.

Tiga pebalap Ducati yang berbeda telah menjadi juara di Austria; Andrea Iannone (2016), Andrea Dovizioso (2017) dan Jorge Lorenzo (2018).

Kemenangan Dovi atas Marquez tahun itu menjadi salah satu duel klasik dalam sejarah dan pebalap asal Italia itu telah kembali naik podium pekan lalu di Brno setelah mendapati sejumlah pekan yang berat di balapan-balapan sebelumnya.

Kemudian ada Danilo Petrucci. Juara GP Italia di Mugello itu memiliki peluang untuk menjadi pebalap keempat yang mempersembahkan kemenangan bagi pabrikan Borgo Panigale di Austria.

Jangan lupakan juga Jack Miller, pebalap teratas dari tim independen. Bersama Pramac Racing pebalap Australia itu menunjukkan kecepatannya ketika naik podium di Brno, yang menjadi finis podium kedua kali musim ini.

Baca juga: Ringkasan sesi tes resmi di Brno, Quartararo pimpin dominasi Yamaha

Baca juga: Hasil GP Ceko, Marquez masih kokoh di puncak

Sementara Marquez telah naik podium di hampir 10 seri yang telah digelar musim ini, kecuali GP Amerika Serikat.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pebalap asal Spanyol itu dua kali start terdepan di Austria dan baru dua kali finis runner-up di sana.

Ducati yang menjadi salah satu motor terkencang di lintasan lurus dipandang cocok dengan karakter trek di Red Bull Ring.

Dengan empat lintasan lurus panjang, dan tujuh tikungan ke kanan, Red Bull Ring juga menjadi salah satu sirkuit paling abrasif terhadap ban selain memiliki catatan waktu rata-rata tertinggi di kalender.

"Ini adalah salah satu dari dua trek yang mengharuskan kami membawa ban belakang yang didesain khusus, satunya lagi di Buriram, Thailand, karena memiliki lintasan lurus yang bisa membangun suhu yang tinggi, jadi konstruksi ini didesain untuk mengendalikan panas itu," kata manajer roda dua motorsport Michelin Piero Taramasso seperti dikutip laman resmi MotoGP.

Michelin menyediakan ban belakang slick asimetris dengan kompon softmedium dan hard yang lebih keras di sisi kanan. Sementara ban depan slick soft, medium dan hard akan dibuat simetris.

Kemudian juga ada ban hujan dalam kompon soft dan medium. Ban belakang soft didesain asimetris sedangkan ban belakang medium serta dua kompon ban depan memiliki desain simetris.

Alex Rins (Suzuki Ecstar) bisa mendapati akhir pekan yang sulit jika Suzuki tak memiliki strategi yang khusus untuk meredam Honda dan Ducati yang menguasai pertarungan di barisan depan di Austria.

Baca juga: Uji purwarupa Yamaha 2020, Rossi ungkap kesan pertamanya

Baca juga: Joan Mir alami memar paru-paru usai kecelakaan di Brno

Demikian pula duo pabrikan Yamaha, Maverick Viñales dan Valentino Rossi yang belum pernah merasakan podium di AUstria.

Walau pun Yamaha dan pebalap rookie Fabio Quartararo mendominasi sesi tes di Brno awal pekan ini tapi Red Bull Ring adalah venue yang berbeda.

Di kubu tim tuan rumah, pebalap Red Bull KTM Factory Racing Pol Espargaro menjadi satu dari dua pebalap yang selalu meraih poin musim ini, selain Petrucci.

Pebalap asal Spanyol itu pastinya ingin memberikan penampilan terbaiknya bagi tim yang bermarkas di Austria itu apa lagi setelah kehilangan kesempatannya tahun lalu karena cedera.

Sementara rekan satu timnya, Johann Zarco, yang mengemas posisi start baris terdepan untuk KTM pekan lalu, akan kembali berupaya membuktikan dirinya memiliki kecepatan juga pekan ini.
Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar