Lampu badai buatan Solo "terang" hingga mancanegara

id Kerajinan lampu badai,Solo dijual hingga mancanegara

Lampu badai buatan Solo "terang" hingga mancanegara

Seorang perajin lampu badai antik saat proses produksi di Kelurahan Joyosudiran Kecamatan Pasar Kliwon Solo, Jumat. (Foto: M Ayudha/Antara)

Solo (ANTARA) - Lampu badai produksi Fairus Art di Kelurahan Joyosudiran, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah, selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal juga melayani pesanan dari mancanegara.

Pengrajin lampau badai, Fairus Ba'sir (45), warga RT O3 RW 11 Joyosudiran Pasar Kliwon Solo, Jumat, mengatakan bahwa lampu badai buatannya yang unik dan indah itu banyak pelanggannya, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Menurut Fairus, hasil produksinya selain melayani pelanggan pasar lokal seperti Solo dan Bali, juga pernah melayani pesanan 200  buah untuk Asian Games 2018.

Bahkan, lampu badai buatannya juga sudah sampai ke Jepang, Korea, dan Australia. Lampu badai ini sudah dua kali melayani pesanan dari Australia, dan setiap pesanan hingga 200 buah.

Fairus mengatakan bersama suaminya menekuni kerajinan melukis dengan cat lampu badai tersebut sejak 2016 hingga sekarang. Fairus juga mengaku dengan memanfaatkan lampu badai bekas kemudian dilukis dan dicat sehingga warna terlihat indah dan cantik.

Lampu badai ini, kata dia, dari bahan bekas yang sudah jelek dan rusak, kemudian dicuci bersih dan diampelas terlebih dahulu baru dicat. Lampu badai yang sudah dicat setelah kering baru dilukis motif bunga.

Baca juga: Kerajinan kulit ikan pari asal Rembang bernilai jutaan rupiah

"Saya sendiri yang mengerjakan hiasan lukisnya, sedangkan suami saya yang membantu mengecat," katanya.

Menurut dia, untuk membuat lampu badai buatannya menjadi unik, indah, dan cantik itu hanya dua orang tenaga. Mereka mampu menyelesaikan 200 buah hingga 250 buah per bulan.

Setiap lampu badai tersebut, kata dia, mempunyai harga yang bervariasi tergantung ukurannya.

Harga lampu badai yang kecil dijual sekitar Rp100 ribu per buah, sedangkan yang besar bisa mencapai Rp150 ribu per buah.

Menyinggung kendala yang dihadapi dalam membuat lampu badai, dia mengatakan lampu badai bekas sekarang sulit dicari, sehingga dapat menghambat pesanan dari pelanggan.    

Menurut dia, dari hasil kerajinan melukis dan mengecat lampu badai antik tersebut rata-rata omzetnya mencapai sekitar Rp15 juta per dua bulan.

"Saya selain membuat kerajinan lampu badai juga lampu petromaks dan kaleng makanan. Pesanan hasil kerajinan rata-rata per bulan masih cukup stabil," katanya. 

Baca juga: Hobi kerajinan kertas dapat meredam stres
Baca juga: Kaum difabel dilatih produksi kerajinan dari limbah plastik
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar