Hadapi kekeringan, Pemprov Jateng jaga debit air puluhan waduk

id waduk di jateng

Hadapi kekeringan, Pemprov Jateng jaga debit air puluhan waduk

Ilustrasi - Suasana kawasan Waduk Mrica atau Waduk Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dilanda penurunan debit air di Kecamatan Bawang, Banjarnegara, Jumat (14/8). (ANTARA/Idhad Zakaria)

Apapun itu kita harus ada upaya yang maksimal untuk menolong para petani
Semarang (ANTARA) - Dinas Pekerjaan Umum, Sumber Daya Air Dan Penataan Ruang Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupaya menjaga debit air puluhan waduk yang tersebar di sejumlah daerah sebagai persiapan menghadapi kekeringan pada musim kemarau.

"Kami berupaya menjaga debit air di waduk-waduk yang debitnya terus mengalami penurunan saat memasuki musim kemarau," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Sumber Daya Air, dan Penataan Ruang Pemprov Jawa Tengah Eko Yunianto di Semarang, Selasa.

Ia mengungkapkan sedikitnya 41 waduk di Jateng yang mengalami penurunan debit air pada awal musim kemarau tahun ini, bahkan penurunan sudah mencapai 24 persen dari total debit air.

Contoh waduk yang sudah mengalami penurunan debit air, antara lain Waduk Malahayu, Waduk Cacaban, Waduk Kedungombo, Waduk Wadaslintang, Waduk Jatibarang, Waduk Penjalin, Waduk Jombor, dan Waduk Tempuran.

"Penurunan debit air terparah terjadi di Waduk Tempuran," ujarnya.

Baca juga: Lima Waduk di Jateng Mulai Mengering

Eko mengungkapkan jajarannya sedang mempercepat proses pemeliharaan 41 waduk di 35 kabupaten/kota untuk menjaga aliran air ke lokasi pertanian tetap berfungsi dengan baik, sekaligus memperkuat daya tampung waduk agar tetap terjaga.

"Paling tidak kami sudah memelihara 41 waduk atau setara 1,8 miliar meter per kubik agar daya tampung air dapat terjaga," katanya.

Menurut dia, penurunan debit air di waduk-waduk tersebut sesuai dengan informasi peringatan dini dari BMKG bahwa musim kemarau pada 2019 akan berlangsung cukup panjang hingga mencapai tujuh bulan.

"Saat ini tidak hanya waduk saja, sungai juga mengalami penyusutan debit air," ujarnya.

Ia berpendapat, dengan kondisi irigasi yang masih mengandalkan aliran air sungai, hal itu menyebabkan kebutuhan air untuk lahan pertanian semakin menurun saat musim kemarau.

"Sekarang sudah terasa ada banyak keluhan petani yang kekurangan pasokan untuk air irigasinya," katanya.

Terkait dengan hal itu, Eko mengaku sudah berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait untuk menanggulangi persoalan kekeringan di Jateng.

"Kami memperkuat koordinasi dengan teman-teman kabupaten/kota karena harus kita sadari kalau itu bukan bersumber dari waduk, ya hanya bisa mengandalkan dari air yang mengalir. Apapun itu kita harus ada upaya yang maksimal untuk menolong para petani," ujarnya.

Baca juga: Antisipasi Kekeringan, Jateng Optimalkan Waduk
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar