
Pemkab Batang menyiapkan opsi relokasi warga terdampak longsor Pranten

Batang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, memastikan opsi relokasi 170 keluarga terdampak longsor di Desa Pranten, Kecamatan Bawang sebagai upaya menghindari ancaman bahaya susulan.
Bupati Batang Faiz Kurniawan di Batang, Rabu, mengatakan bahwa berdasarkan hasil pantauan lokasi terdampak tidak layak lagi dijadikan permukiman.
"Setelah melihat langsung kondisinya, area ini memang tidak layak sebagai hunian. Potensi bahaya longsor sangat besar dan membahayakan keselamatan warga," katanya.
Ia mengatakan pihaknya telah menyiapkan dua skema penanganan yaitu jangka pendek dan jangka panjang.
Untuk penanganan korban terdampak longsor, kata dia, pemerintah daerah fokus memastikan kebutuhan dasar warga di pengungsian agar tetap terjaga sedangkan opsi jangka panjang akan merelokasi sebagai satu-satunya pilihan yang realistis.
"Ya, satu-satunya upaya adalah relokasi. Kalau tetap bertahan di sini maka ancaman longsor akan terus ada setiap musim hujan," katanya.
Menurut dia, saat ini pemerintah daerah tengah mengkaji pemanfaatan lahan bekas Perhutani yang kini dikelola Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) sebagai lokasi hunian baru.
Pemerintah daerah, kata dia, berencana membangun hunian sementara (huntara) sebelum dilanjutkan dengan pembangunan rumah permanen.
"Estimasi awal ada sekitar 20 unit hingga 22 unit rumah yang akan dibangun untuk warga yang paling terdampak dan berisiko tinggi," katanya.
Faiz Kurniawan mengatakan sebenarnya pemerintah sudah memetakan kerawanan longsor namun harus benar-benar dijadikan acuan dalam pemberian izin hunian.
“Kita sudah punya peta potensi longsor dan penataan ruang berbasis mitigasi bencana. Tata ruang seharusnya tidak memberi ruang bagi permukiman di kawasan rawan bencana," katanya.
Baca juga: Pemkab Batang mempercepat penanganan akses jalan dua lokasi longsor
Pewarta : Kutnadi
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
