
Harga telur diprediksi terus naik

Solo, (Antaranews Jateng) - Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) memprediksikan harga telur ayam masih terus naik seiring dengan tingginya ongkos operasional pengiriman komoditas tersebut.
"Prediksi kami kenaikan ini karena adanya kebijakan mengenai larangan beroperasinya angkutan berat saat Lebaran," kata Penasehat Pinsar Pusat Robby Susanto di Solo, Selasa.
Ia mengakui untuk kendaraan transportasi yang mengangkut kebutuhan pokok memang dikecualikan, meski demikian kebijakan tersebut hanya berlaku untuk satu kali jalan atau pada saat pengiriman barang.
"Sedangkan setelah barang dikirim kendaraan tidak boleh dioperasikan lagi ke arah kembali. Padahal kami kan masih membutuhkan armada tersebut untuk mengangkut lagi," katanya.
Ia mengatakan akibat kondisi tersebut biaya operasional yang dikeluarkan oleh para distributor menjadi lebih tinggi.
"Mau tidak mau kan kami harus menyediakan armada lain untuk pengiriman barang. Kondisi inilah yang menurut kami akan memberikan dampak pada kenaikan harga telur ayam," katanya.
Terkait hal itu, Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Surakarta Bandoe Widiarto mengatakan akan segera menindaklanjutinya melalui bekerja sama dengan "stakeholder" terkait.
"Kondisi ini harus segera dicarikan solusi, karena kalau tidak akan berpotensi menaikkan inflasi di Kota Solo pada saat Lebaran," katanya.
Ia berharap angka inflasi pada saat Lebaran di Kota Solo akan terkendali seperti halnya inflasi pada bulan Mei lalu yang berada di level 0,04 persen.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Wisnu Adhi Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
