Logo Header Antaranews Jateng

Peternak ayam petelur di Kabupaten Kudus masih bertahan di tengah anjloknya harga telur

Kamis, 2 Juli 2026 14:14 WIB
Image Print
Telur ayam ras yang dijajakan di salah satu super market di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif

Kudus (ANTARA) - Peternak ayam petelur di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, masih bertahan di tengah anjloknya harga telur yang terjadi sejak turunnya permintaan telur dari SPPG yang bersamaan dengan masa libur sekolah.

Jiman, salah satu peternak ayam petelur di Kudus, Kamis, mengakui harga telur saat ini anjlok karena hanya laku dijual Rp20.000 per kilogram. Sedangkan sebelumnya mencapai Rp26.000 per kilogram.

Selama ini, kata dia, sebagian hasil produksinya diserap oleh sejumlah SPPG untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Namun, selama libur sekolah, aktivitas SPPG ikut berhenti sehingga permintaan telur turun drastis.

Akibatnya, ribuan butir telur yang biasanya terserap setiap hari kini membanjiri pasar. Kondisi tersebut memicu penurunan harga karena pasokan lebih besar dibandingkan permintaan.

Pengalaman serupa, kata dia, pernah dialami beberapa tahun sebelumnya. Setelah bertahan lama tidak juga kembali normal, akhirnya semua ayamnya dijual dengan harga murah untuk menghindari kerugian yang semakin besar.

"Agar usaha tetap menguntungkan, harga telur idealnya berada di kisaran Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per kilogram. Sementara dengan populasi lebih dari 4.000 ekor ayam petelur, biaya pakan yang harus dikeluarkan hampir Rp3 juta setiap hari, belum termasuk vitamin dan upah dua orang pekerja," ujarnya.

Hingga kini, kata dia, dirinya masih memilih bertahan sambil menunggu harga telur kembali membaik.

Kepala Bidang Fasilitasi Perdagangan, Promosi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sonhaji membenarkan harga telur ayam ras memang mengalami penurunan.

"Dari semula mencapai Rp26 ribu per kilogram pada 24 Juni 2026, kini turun menjadi sekitar Rp23 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Kudus," ujarnya.

Pemerintah berharap, kata dia, kondisi ini hanya bersifat sementara dan harga telur kembali stabil seiring dimulainya kembali aktivitas sekolah serta meningkatnya permintaan dari SPPG.

Baca juga: DPKUKM Banyumas mendorong perluasan pasar atasi surplus telur ayam



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026