
Peternak minta pemerintah mengambil langkah atasi anjloknya harga telur

Temanggung (ANTARA) - Peternak ayam di Temanggung meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi anjloknya harga telur ayam yang berkisar Rp17.000-18.000 per kilogram (kg) atau jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp26.500 per kg.
Bendahara Koperasi Peternakan Unggas Sejahtera (KPUS) Sektor Temanggung Buyung Adi Nugraha, di Temanggung, Selasa, langkah konkret yang bisa diambil mulai dari mempercepat distribusi jagung melalui program SPHP, mempermudah regulasi impor bahan baku pakan, hingga kembali menjalankan program penyerapan telur untuk penanganan stunting seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.
Menurut dia, anjloknya harga telur dipengaruhi melemahnya daya beli masyarakat serta berkurangnya penyerapan telur akibat liburnya sejumlah program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga stok telur menumpuk di tingkat peternak.
Harga telur ayam ras di tingkat peternak di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, terus merosot dalam sebulan terakhir sehingga banyak peternak merugi.
"Harga minimal agar peternak masih bisa bertahan berada di kisaran Rp 24.000 hingga Rp 26.000 per kg sesuai HAP pemerintah. Dengan harga sekarang, teman-teman peternak mengalami kerugian yang semakin dalam karena dibarengi kenaikan harga pakan," katanya.
Ia menyampaikan tren penurunan harga telah berlangsung hampir satu bulan dan terjadi hampir setiap hari. Besaran kerugian bervariasi, namun pada peternakan dengan produktivitas yang kurang efisien dapat mencapai 30 hingga 35 persen.
Untuk menekan kerugian, katanya, sebagian peternak terpaksa mengurangi populasi ayam petelur melalui afkir dini. Namun langkah tersebut juga tidak efektif karena harga ayam afkir ikut anjlok hingga Rp11.000-Rp12.000 per kg atau sekitar Rp20.000 per ekor, jauh di bawah harga normal.
"Posisinya sekarang serba sulit. Mau mempertahankan ayam rugi karena harga telur rendah, tetapi diafkir juga rugi karena harga ayam afkir ikut jatuh," katanya.
Di Kabupaten Temanggung, produksi telur dari sekitar 300 peternak anggota KPUS mencapai 100 hingga 150 ton per hari.
Ia menuturkan, kebutuhan konsumsi masyarakat setempat hanya sekitar 70 hingga 80 ton per hari. Kelebihan produksi tersebut selama ini dipasarkan ke berbagai daerah.
Para peternak berharap pemerintah segera melakukan intervensi pasar. Jika harga telur terus berada di bawah biaya produksi tanpa adanya solusi, banyak peternak dikhawatirkan tidak mampu lagi menanggung kerugian dan terpaksa menutup usahanya.
Baca juga: Pemkab Temanggung mengajukan 3.019 penerima BSPS Tahap II 2026
Pewarta: Heru Suyitno
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
