Logo Header Antaranews Jateng

Kades di Temanggung keluhkan penggunaan kartu tani

Senin, 12 Maret 2018 20:07 WIB
Image Print
Ilustrasi - Seorang petani di Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menunjukkan kartu tani. (Foto: Akhmad Nazaruddin Lathif)

Temanggung, 12/3 (Antara) - Beberapa kepala desa di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah mengeluhkan penggunaan kartu tani karena sumber daya manusia yang menangani dan petani belum siap dengan kartu tersebut.

Seorang kepala desa di Kabupaten Temanggung, Sukirman, di Temanggung, Senin, mengatakan kartu tani hanya menyulitkan petani karena kuota pupuk yang diberikan oleh pemerintah tidak sesuai dengan luasan lahan yang dimiliki petani.

Ia menyampaikan hal tersebut dalam evaluasi pengunaan kartu tani di Pendopo Pengayoman Kabupaten Temanggung.

"Salah satu contohnya petani di tempat saya, dia menggarap lahan seluas setengah hektare, tetapi kuota yang diterima hanya sebanyak 50 kilogram. Jumlah pupuk ini sama sekali tidak mencukupi kebutuhan petani," katanya.

Kepala Desa Kedungkumpul Suwito menuturkan sistem kartu tani ribet dan ruwet sehingga banyak petani yang merasa bingung.

Ia mencontohkan ketika petani memasukkan saldo sejumlah uang ke kartu tani, namun ternyata saldo tersebut tidak masuk atau kosong.

Permasalahan tersebut, menurut dia, tidak hanya dialami oleh petani di wilayahnya melainkan hampir dialami oleh semua petani di Kabupaten Temanggung sehingga petani berharap ada perbaikan sistem di kartu tani itu.

"Harus ada perbaikan sehingga petani merasa tidak dipersulit ketika akan mengambil pupuk," katanya.

Ia menuturkan aplikasi kartu tani belum bisa optimal dan masih banyak petani yang mengalami kendala dalam pengunaan kartu tani.

Ia mengakui kartu tani sebagai salah satu upaya agar pupuk bersubsidi benar-benar sampai ke tangan petani yang membutuhkan, namun demikian kartu tani yang saat ini diluncurkan oleh pemerintah belum bisa memberikan manfaat seperti yang diinginkan pemerintah.

"Jangan sampai dengan adanya kartu ini petani justru menjadi lebih susah, seharusnya petani bisa menjadi lebih mudah tidak seperti saat ini," katanya.

Kepala Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam Setda Provinsi Jateng Peni Rahayu mengatakan petani tidak diwajibkan untuk menabung di kartu tani, selain itu tidak harus ada uang yang mengendap di kartu tani.

Ia mengimbau agar petani tidak mengubah nomor PIN kartu tani sehingga dalam perjalanannya tidak menyulitkan pengecer atau toko yang ditunjuk untuk mendistribusikan pupuk.

Ia mengatakan jika petani akan memanfaatkan kartu tani untuk menabung maka mereka disilakan mengubah nomor PIN. Hanya saja nomor PIN yang diganti harus selalu diingat.

"Jika tidak ada saldonya, petani bisa menebus dengan uang tunai, nanti pengecer yang akan mentransfer ke BRI," katanya.

(U.H018/B/M029/M029) 12-03-2018 18:00:31



Pewarta:
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026