
Produksi Kain Traso Terimbas Penguatan Dolar

"Selama ini memang kami mendatangkan bahan baku dari India karena belum ada bahan baku lokal yang kualitasnya menyamai bahan baku impor tersebut," kata Ketua Koperasi asosiasi tenun troso, tekstil, dan konveksi Jepara (Asttika) Ahmad Fahrudin di Semarang, Jumat.
Semenjak penguatan dolar AS tersebut, harga bahan baku impor juga mengalami kenaikan. Meski tak lebih dari 30 persen, kenaikan tersebut cukup berpengaruh terhadap produksi kain troso mengingat sebagian besar para pelaku industri tersebut adalah sektor kecil.
Menyikapi kenaikan harga bahan baku tersebut, pihaknya pernah mencoba menggunakan benang hasil produksi salah satu perusahaan di Jawa Barat, tetapi benang tersebut kaku sehingga juga terasa kaku ketika menjadi sebuah kain.
"Untuk benang yang kami pakai di antaranya jenis AA dan Himalaya. Kami tidak bisa menggunakan sembarang benang karena benang harus lentur tetapi tidak mudah patah mengingat cara membuatnya ditenun," katanya.
Bahkan, karena pembuatannya melalui proses tenun bukan mesin tersebut, waktu pembuatan bisa sampai 1 bulan bahkan lebih. Cepat atau lambatnya proses pembuatan tergantung dari cuaca, jika musim kemarau pembuatannya lebih cepat karena proses pengeringan benang juga lebih cepat.
Sementara itu, penguatan dolar AS tidak hanya berdampak pada kenaikan harga bahan baku tetapi juga memengaruhi daya beli masyarakat. Menurut dia, sudah beberapa bulan terakhir ini daya beli masyarakat mengalami penurunan bahkan mencapai 40 persen.
"Kami sudah berupaya untuk menurunkan harga produk-produk stok, tetapi ternyata peminatnya belum kembali seperti sedia kala," katanya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
